Kamis, 22 Mei 2014

EMBUN FEAT JINGGA 4



(Surat Kaleng dari Langit)

Selasa ini sebenarnya tidak ada mata kuliah. Tapi aku harus datang ke kampus untuk menonton pemutaran film-film pendek karya anak broadcast di gedung teater paling pojok dekat laboratorium bahasa. Penampilan Embun tampak 5 tahun lebih muda dari usianya. T-shirt merah lembayung dibalut sweter abu-abu dengan jeans hitam dan sepatu kets cukup terlihat berbeda. Sedangkan aku hanya mengenakan baju kurung oranye dengan tas selempang dan sepatu lars serasi.

Setibanya di kampus, beberapa teman menyapa kami. Mereka bilang kami cocok. Seperti sejoli di cerita-cerita cinta buatan anak sastra. Yang satunya dewasa, tampan, maskulin dan lebih tinggi dari si perempuan. Yang satunya lagi cantik, lemah lembut dan anggun.

“Pagi, Jingga. Ciyeee, tumben datang berdua.” Sapa Windy, sahabatku di fakultas bahasa dan seni. Di sampingnya ada Lean, teman dekat yang baru jadi pacarnya. Meski begitu, keduanya seperti pasangan lama yang semakin harmonis. Tetap kompak dan romantis.
“Iya, lagi sempat. Bella sama Danis kemana? Belum kelihatan.” Windy hanya mengangkat bahu.
“Hai bro, apa kabar?” Lean dan Embun berjabat tangan ala lelaki.
“Baik. Gimana bisnis? Lancar?” Tanya Embun.

Kami berjalan sejajar. Embun dan Lean membicarakan profesi masing-masing. Aku dan Windy sibuk menghubungi Bella. Bella, sahabatku di fakultas ekonomi. Berpacaran dengan Danis, anak fakultas kedokteran yang super-duper pintar. Tinggi, putih, berkacamata dan selalu membawa catatan kecil kemanapun ia pergi.

Di depan pintu teater, kami berkumpul. Menunggu Bella dan Danis. Tak lama kemudian, mereka muncul.

“Hallo, everyone. Maaf ya telat. Soalnya tadi ketemu teman SMA gitu.” Kata Bella sambil menyalami kami.
“Lho, kita kan satu SMA. Ketemu siapa tadi?” Tanyaku penasaran. Tapi pemutaran film akan segera dimulai, semua yang hadir masuk ke teater dengan antusias. Dan hal itu mencuri perhatian kami.
“Mau mulai tuh, masuk yuk.” Ajak Windy. Kami pun menghamburkan diri ke dalam. Duduk sebarisan seperti triple date.

Dari detik pertama hingga dua jam terakhir, acara berlangsung riuh dengan tepuk sorak yang meriah. Kami puas. Ternyata anak broadcast di kampus cukup berprestasi juga. Jalan ceritanya bagus, pengambilan gambarnya juga tepat, editing hingga soundtrack pun selaras. Akhir acara, tatap muka dengan tim produksi. Berforo bersama, wawancara televisi dan radio lokal.

Aku dan Embun foto berdua di depan slogan organisasi pembuat film. Lalu foto berenam dengan Windy, Lean, Bella dan Danis. Ups, aku lupa sesuatu. Tas selempangku tidak ada. Aku kebingungan. Aku putuskan untuk kembali ke tempat dudukku tadi. Huh, ternyata benar. Tasku ketinggalan. Tapi, seperti ada yang aneh.

“Kok kayak ada isinya? Padahal aku cuma bawa dompet sama handphone.” Aku raih sesuatu yang melembung. Ha, kaleng minuman ringan. Aku goyah sedikit dan menimbulkan suara. Ternyata ada selembar kertas, bisa dibilang ini surat.
“Dari siapa?” Tanya Embun mengejutkanku.
“Belum tahu. Coba ku baca ya.”

‘Senang bertemu denganmu lagi. Melihatmu seperti kembali ke masa kita SMA dulu. Surat Kaleng dari Langit.’ Begitu tulisannya.

“Biar ku tanya Bella.” Selidik Embun.
“Tidak perlu.” Aku mencegah. Rona wajahnya tidak tenang. Jadi lebih baik, jangan mempedulikan makna terselubung di balik tujuan si pengirim menyampaikan surat kaleng ini. Jika Embun tahu siapa pelakunya, aku khawatir dia akan menghakimi orang tersebut.
“Kenapa? Kamu tahu siapa orangnya?” Aku hanya menggelengkan kepala.
“Jangan sembunyikan apapun dariku, walaupun itu hal kecil. Aku tidak suka ada rahasia-rahasiaan.” Ujarnya dan berlalu.

Membuntutinya menuju parkiran kampus. Kali ini Embun tidak dengan mobil sport yang paling bertenaga atau motor sport touring bikenya. Tapi sebuah mobil berwarna putih dengan fitur jauh lebih lengkap dari para kompetitornya.

“Aku bisa buang surat kaleng ini kalau kamu tidak suka.” Kataku. Langkah kami pun terhenti di depan mobil Embun.
“Itu milikmu. Simpanlah.” Embun masuk ke mobilnya, menyalakan mesin tanpa mempersilahkanku untuk ikut. Kemudian, klaksonnya membuyarkan lamunanku.

Kami menuju Cake Shop di bilangan Jakarta Timur, tepatnya di Kalimalang. Minum jus buah dan kue cokelat kesukaan kami.

“Setelah ini aku langsung antar kamu pulang ya? Soalnya nanti sore mau ke studio.” Kata Embun sambil mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.
“Iya.” Singkatku.

Setengah satu siang. Sesampainya di depan gerbang, Embun malah mengikutiku sampai depan pintu. Kadang dia memang berlebihan dalam mencemaskanku. Aku masih tidak enak hati tentang surat kaleng itu. Huft.

“Jangan lupa shalat.” Aku mengingatkan.
“Iya.” Embun melihat pengesat kaki. Ada kaleng minuman ringan disitu. Dia mengambilnya.
“Lagi.” Katanya sambil membaca isi surat.

‘Sore ini jam 4. Tunggu aku di rumah ya. Surat Kaleng dari Langit.’ Aish, apa si pengirim tidak sadar bahwa dia telah membuat bumerang? Begini terus aku bisa tegang. Lihat, Embun jadi dilema.

“Aku batal ke studio. Aku mau disini sampai orang ini datang.” Aku mengambil alih surat kaleng di tangan Embun. Ha, apakah sesuatu yang rumit akan terjadi beberapa saat lagi? Mengapa si pengirim rahasia ini begitu suka membuatku merasa was-was?
“Masuklah. Kita shalat berjamaah lalu makan siang.” Ajakku.

Setelah shalat dzuhur, makan siang dan menonton televisi. Di saat kami sedang melaksanakan shalat ashar, bel berbunyi dua kali. Bik Iyas mungkin masih mencuci dan menjemur baju di lantai atas. Jadi tidak tahu kalau ada tamu.

Selesai shalat, aku melipat mukena dan sajadah. Sedangkan Embun langsung bergegas ke pusat perhatiannya. Membuka pintu dan tidak menemukan siapapun ada disana. Lagi-lagi, ia hanya mendapati surat kaleng kedua di pengesat kaki.

“Siapa?” Tanyaku.
“Tidak ada. Coba baca suratnya.” Pinta Embun. Aku menuruti.

‘Aku takut mengganggu. Surat Kaleng dari Langit.’ Melihat rangkaian kata itu, spontan Embun melempar kaleng dan merobek suratnya kecil-kecil.

“Jangan marah begitu.” Aku memohon.
“Kita ke Bella sekarang.” Embun menarik tanganku. Sepertinya dia serius.

Ketika ingin memasuki mobil, seseorang muncul dari belakang kami. Motor sportnya yang mengadopsi MotoGP itu sangat ku kenal. Tidak asing lagi.

“Kalian mencariku?” Tanyanya.

Abid Zuhdi, pendampingku sebagai Raja 2010 di SMA Pandawa Lima.

Embun mengepalkan tangan kanannya. Aku menarik nafas dalam-dalam. Peperangan dimulai.

“Maksud kamu apa?” Embun menghampirinya. Aku menyusul sambil memegang tangan kiri Embun. Berharap emosinya tidak meluap.
“Aku rindu orang yang ku suka sejak SMA. Apa tidak boleh?” Abid mengesalkan. Seperti menantang dan sok berani.
“Caramu norak dan kampungan.” Ungkap Embun.
“Ohya? Lalu kakak ini apa?” Balas Abid.

Tubuhku lemas. Aku tidak bertenaga untuk melerai perdebatan mereka.

“A-abid. Please jangan buat masalah. Jika ada yang ingin disampaikan, katakan sekarang.” Sekuat hati aku meluahkan kalimat itu.
“Aku suka sama kamu. Sejak kita SMA. Tepatnya ketika kita dinobatkan sebagai Raja dan Ratu 2010.” Tegas Abid.

Embun membuang pandangan ke langit sore yang mendung. Air mukanya tampak geram. Aku tidak yakin sepulang dari sini Abid akan baik-baik saja.

“Maaf, bid. Sejak kamu suka sama aku, sejak itu pula aku suka sama kak Embun.” Kataku sedikit lega. Masih masa terkejut. Mengapa ada orang senekat ini? Menyatakan perasaannya pada perempuan di depan kekasih perempuan tersebut. Benar-benar gila.
“Aku tahu. Aku hanya ingin mengatakan ini. Ternyata aku terlambat. Semoga kalian selalu bersama.” Abid menepuk bahuku, melirik Embun sekilas lalu melaju pergi.

Motor sportnya sudah tidak terlihat. Aku dan Embun masih bungkam. Bahkan untuk ini dia sama sekali tidak berkomentar. Seharusnya dia tersanjung atau terharu atau berterima kasih begitu. Aku membalas pernyataan jujur Abid dengan pernyataan jujurku juga. Itu sebuah prestasi bukan? Aku patut diberi penghargaan.

Hey, lihat. Embun memelukku. Memasuki tahun kelima kedekatan kami, dalam pelukannya tinggiku tetap sedadanya. Tidak ada peningkatan. Sampai kapan aku menjadi orang pendek terus?

Heuh. Surat Kaleng dari Langit sangat berkesan. Aku baru tahu kalau Abid memiliki perasaan seperti itu padaku. 3 tahun menjadi teman sekelas, aku sama sekali tidak menyadarinya. Karena Abid pun tidak pernah menunjukkan gelagatnya. Maka yang dapat ku petik adalah, ‘Jika kamu menyukai seseorang, katakanlah. Diterima atau tidak, terbalas atau tidak, itu urusan belakang. Intinya kamu sudah menyampaikannya.’ Rasa lega itu menyenangkan lho.

Selasa, 20 Mei 2014

EMBUN FEAT JINGGA 3



(Metode Cinta)

Senja ini menjadi saksi, bahwa dua orang yang berbeda telah menyatu.

“Aku masih sangat ingat, bagaimana caramu mendekatiku. 4 tahun yang lalu.” Ujar Embun.

Bahkan di hamparan pasir putih pantai Anyer ini, kami menatap langit, menghadap matahari terbenam. Bernostalgia, mengenang peristiwa-peristiwa manis yang kami lalui bersama.

“Raja dan Ratu 2010 jatuh kepada… Abid Zuhdi dan Jingga Yasmina.” Sebut MC, diiringi tepukan tangan seluruh siswa dan siswi baru angkatan 2009/2010 SMA Pandawa Lima, beserta dewan guru dan para alumni sekolah yang diundang.

Aku dan Abid sama-sama tidak percaya, tidak menyangka atau apalah itu namanya. Kami benar-benar terkejut. Akhirnya, kami pun maju ke depan lapangan. Naik ke podium yang disediakan khusus untuk penobatan Raja dan Ratu 2010.

“Mahkota akan diberikan oleh kak Embun Dirgantara dan kak Anita Sintya, selaku alumni juga mantan Raja dan Ratu 2003. Kepadanya kami persilahkan.” Lanjut MC.

Kali ini detak jantungku bekerja lebih cepat dari yang ku bayangkan. Aku, anak baru di kelas X SMA Pandawa Lima, berusia 15 tahun. Merasakan cinta pada pandangan pertama, ke Embun Dirgantara. Ha, sungguh tidak mungkin. Tibak bisa tidak bisa. Embun 10 tahun di atas aku. Embun yang dewasa, usianya mungkin sekitar 25 tahun. 25 tahun untuk seorang lelaki itu ya pastinya sudah menikah atau setidaknya sudah memiliki satu anak. Ya tuhan, perasaan macam apa ini. Apa aku sudah gila?

“Selamat ya. Jadilah Ratu yang lebih baik dari ratu-ratu sebelumnya.” Ucap Anita ketika selesai memakaikan mahkota ke atas kepala Abid Zuhdi dan aku menyalaminya. Dia juga berpesan untuk Raja 2010, yang tidak sempat ku dengar. Tapi aku melihatnya sekilas. Ha, pandanganku hanya fokus pada Embun Dirgantara. Bagaimana tidak, dia yang akan memakaikan mahkota di atas kepalaku.

Terdiam. Aku menikmati masa. Masa ketika seseorang yang ku suka berada sangat dekat denganku. Hanya berjarak selangkah. Aku menunduk dan dia memakaikan mahkota Ratu 2010, mahkota yang terbuat dari ranting kayu dan aneka macam permen. Tapi yang membuatku senang bukan main adalah, Embun berbisik di telingaku dan kata-katanya itu yang sampai sekarang masih aku ingat dengan jelas.

“Aku ingin lihat seperti apa kamu 4 atau 5 tahun kemudian. Semoga menjadi Ratu sesungguhnya.” Begitu harapnya.

“Ha, mengingat itu aku jadi malu. Menurut teman-teman, aku terlalu berani. Menyukai kakak alumni yang usianya 10 tahun di atasku adalah sebuah aib. Bahkan mereka menyebutku ‘tukang mimpi’. Karena bagi mereka, aku tidak akan pernah mendapatkanmu.” Ungkapku.
Heuh. Apa perkataanku barusan ada yang terdengar aneh? Mengapa Embun menatapku sedemikian tajamnya? Berusaha memamerkan mata elangnya begitu? Ha, sombong sekali. Apa lelaki tampan di dunia ini hanya dia seorang?

“Kamu sudah membuktikan pada mereka, bahwa perasaanmu sejak awal tidak pernah salah. Sekarang kamu sudah memiliki apa yang kamu impikan. Kamu telah berhasil.” Kata Embun.

Tiba-tiba aku mencium bau desir pasir yang membawaku kembali ke waktu dimana aku memperjuangkan semuanya sendirian. Ya, sejak Embun mengatakan harapannya padaku. Aku menjadi sangat percaya diri, optimis dan pekerja keras. Aku belajar giat agar lulus dengan nilai terbaik. Aku juga membeli buku diary khusus untuk mencurahkan perasaanku ke Embun. Dan aku bangkit dari keterpurukkan dalam menulis, karena Embun adalah inspirasiku. Aku menjadikannya sebagai fondasi imajinasi. Bahwa suatu saat nanti aku bisa meluncurkan sebuah buku, karya tulisku yang bertajuk Embun feat Jingga. Dan lihat, sekarang aku ada disini bersama Embun.

“Berhasil karena aku menggunakan metode cinta yang benar. Aku pernah menyukai seseorang di masa kecil. Kata Ibu, itu adalah cinta pertama. Ketika SMA, aku mengalami perasaan yang sama. Menyukai seseorang untuk kedua kalinya. Dan Ibu bilang, itu cinta pada pandangan pertama. Aku sempat tanya sama Ibu, apa perasaanku ini tidak wajar? Lalu Ibu menjawab, cinta datang kepada siapa saja tanpa memandang usia, apa profesinya atau bagaimana keadaannya. Cinta yang sesungguhnya tidak kenal sebuah alasan. Karena cinta itu rasa. Bukan status.” Jelasku.

Hey, mata elang itu berbinar-binar. Aku perhatikan, keduanya memancarkan cahaya kecil. Aku lihat lebih dalam lagi, dia malah menarikku masuk ke masa setahun silam.

“Ak-hir-nya ku menemukanmu. Sa-at hati iii-ni mulai merapuh. Ak-hir-nya ku menemukanmu. Sa-at raga iii-ni ingin berlabuh. Ku ber-harap, engk…” Aku sedang latihan vocal di studio tempat Embun rekaman. Tapi apa daya, berkali-kali diulang, justru suaraku semakin memburuk. Entah salah lirik, salah nada, salah fokus dan sebagainya.
“Gak gitu nadanya. Gini, ku berhaa-rap enggkaulaaah ja-wabaaan segalla risau hatiku.” Ajar Johan. Si produser yang punya banyak uang. Bahkan ia bisa membayar komposer mahal sekalipun untuk datang ke studionya. Bukan orang yang tidak tahu apa-apa tentang musik sepertiku.

Embun hanya tersenyum menyemangati dari balik pintu. Dia tahu aku sedang berjuang dan kuat mental. Berapapun cacaian atau makian yang terlempar untukku, aku tetap mau belajar. Aku harus bisa, aku pasti bisa. Aku akan selalu bersama dengan Embun, seorang musisi yang digemari banyak orang. Mana mungkin aku punya muka untuk membuatnya malu karena memiliki kekasih yang tidak bisa bernyanyi. Ha, walau aku sadar suaraku tidak begitu bagus atau merdu. Setidaknya aku bisa bernyanyi di depan Embun.

Latihan cukup. Di rumah, aku begadang selama beberapa malam. Menyelesaikan proyek naskah novel pertamaku. Lalu lanjut menyusun konsep baru tentang sebuah simfoni. Ya, aku akan memberi Embun satu kejutan. Kejutan yang ku kerjakan bersama teman-teman bandnya, tanpa sepengetahuannya tentunya.

Di hari ulang tahun Embun yang ke-29 tahun. Aku menggelar orkestra sederhana untuk memperingati hari lahir seseorang yang ku cintai. Dihadiri beberapa musisi seperjuangannya, sahabat-sahabat lamanya, juga keluarga besarnya yang selalu mendukungku. Aku bahagia, akhirnya aku bisa menjadi apa yang dia harapkan. Aku menjadi ratu di hatinya. Karena metode cinta yang ku pakai, ‘Lakukan dengan sungguh-sungguh. Maka cinta akan menghampirimu.’

“Berjuang untuk cinta tidak sulit bukan?” Tanya Embun memastikan. Aku mengangguk.
“Begitu pun dengan impian. Mengejar cinta artinya kamu sudah melakukan banyak hal. Karena cinta kamu menjadi juara, karena cinta kamu belajar bernyanyi, karena cinta kamu mendadak jadi EO, karena cinta kamu jadi punya keluarga baru, karena cinta kamu benar-benar memetik hasil. Kamu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi Jingga yang warnanya cerah.” Lanjutnya.

Aku baru sadar sekarang. Cinta menuntunku melakukan banyak hal. Hal-hal yang mengagumkan. Aku mengerti, aku paham. Aku bisa menghadapi ini semua, melewati segalanya, karena kekuatan dari cinta. Cinta yang mengepakkan dua sayap untuk menyatu dan terbang bersamanya, yaitu Embun dan Jingga.

EMBUN FEAT JINGGA 2



(Cinta Masa Kecil)

“Lagu terakhir, untuk seseorang di table 11, Jingga Yasmina. Akhirnya ku menemukanmu, dari Naff.”

Perkataan Embun itu membuatku jadi pusat perhatian para pengunjung di You Rock Café ini. Sebagai vokalis band, suaranya memang pantas disebut ‘berciri khas’. Bagus, tapi tidak terlalu merdu. Hanya saja, dia kekasihku. Hal yang biasa bagi orang lain, akan luar biasa bagiku bukan. Hal kecil yang tidak dilihat orang lain, akan terlihat di mataku bukan.

Lagu Naff yang sedang dinyanyikannya nyaris menerbangkanku. Beruntung aku cepat sadar, bahwa aku tidak punya sayap.

“10 tahun tidak bertemu, rasanya seperti mimpi. Ternyata bertemu di tempat seperti ini.” Ucap seorang lelaki dengan penampilan yang sangat rapi bak pengusaha muda atau seorang pemimpin berkekuasaan tinggi.

Aku memperhatikannya dari atas kepala sampai ujung kaki. Beberapa detik kemudian, aku seperti kembali ke masa lalu. Ketika kelas 5 SD. Ya, lelaki yang menghadapku ini bernama Aditya Putera. Lebih tepatnya, dia cinta masa kecilku.

“Hey, Aditya. Apa kabar?” Aku menyapanya dengan senang hati.
“Baik. Boleh duduk disini?”
“Oh, ya. Silahkan.” Aditya duduk di sebelahku.

Embun bernyanyi sambil menatap kami sinis. Mau menjelaskan pun belum ada waktu. Biarlah. Ini pertama kalinya aku dan Aditya bertemu lagi. 10 tahun berpisah, kami sama-sama mengalami banyak perubahan.

Kenaikan kelas 6 SD Aditya pindah ke Pekanbaru, Riau. Tahun lalu dia baru pulang ke Jakarta. Dan sekarang kami bertemu disini. Ah, padahal aku sudah lupa dengan lelucon cinta masa kecil kami. Aku pernah pipis di celana ketika Aditya menembakku di depan semua anak-anak kelas 5. Tahukah, yang lebih memalukan adalah, buku diaryku tentang Aditya ketahuan sama guru olahraga. Sejak saat itu, dibuat peraturan dilarang pacaran. Hubunganku dengan Aditya jadi tidak jelas. Sampai akhirnya dia pindah sekolah, pindah tempat tinggal, dan kami benar-benar hilang komunikasi.

“Aku harus berterima kasih pada vokalis band itu. Karena dia menyebut namamu, kita bisa bertemu sekarang.” Kata Aditya.
“Dia pacarku.” Kataku malu-malu.
“Ohya? Bukankah kita belum putus?” Tanya Aditya. Aku sedikit takut dan kebingungan.
“Maaf, aku bercanda.” Lanjutnya. Aku bisa tenang.
“Oo-okey. Sekarang kamu sibuk apa?” Tanyaku basa-basi. Padahal aku mulai resah. Raut wajah Embun gusar, seperti membara atau curiga atau cemburu. Entahlah, aku hanya khawatir bila terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan.
“Aku pemilik café ini.” Singkat Aditya.
“Benarkah? Tapi selama beberapa bulan Embun disini, aku tidak pernah melihatmu.”
“Jadi namanya Embun?”
“I-iya.”
“Aku punya orang kepercayaan, sesekali aku kesini jika ada keperluan.”
“Oh.” Pandanganku mengarah ke lelaki yang akan menghampiri kami.

Embun. Aku bisa lihat ada warna merah di kedua matanya. Tubuhnya memanas. Detak jantungnya tidak beraturan. Tapi dia berusaha menyembunyikan itu semua. Pura-pura baik-baik saja.

“Aku sudah selesai. Ayo pulang.” Ajak Embun. Tatapannya seperti ingin memangsaku. Sedikitpun dia tidak menoleh ke arah Aditya. Ha, andai Embun tahu. Lelaki yang bersamaku ini adalah pemilik café tempat ia bekerja. Kalau tidak sopan, apalagi tidak ramah, ia bisa disingkirkan.
“Baiklah. Aku pulang. Senang bertemu denganmu lagi Aditya. Sampai jumpa.” Ujarku.

Aku bangkit dan Embun langsung menarik tanganku, membawaku pergi. Baru beberapa langkah, Aditya menghentikan kami.

“Apa kalian punya urusan penting? Jika tidak, aku masih ingin bicara banyak.”

Aku bisa merasakan, Embun memegang tanganku begitu erat. Sepertinya dia tidak ingin kehilangan. Sesekali bertatapan lalu Embun mendekati Aditya, tentu masih menggandengku.

“Aku pemilik café ini, Aditya Putera.” Aditya mengulurkan tangan, Embun belum juga meraihnya. Ah, orang ini. Apa perlu aku yang teriak dan mengatakannya.
“Dia teman SD-ku.” Ucapku siapa tahu bisa menyelamatkan.
“Embun Dirgantara.” Akhirnya mereka berjabat tangan.
“Duduklah sebentar. Aku dan Jingga lama tidak bertemu.” Pinta Aditya.

Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku dan memberikannya pada Aditya. Sebuah kartu nama. Semoga bisa memuaskannya dan segera enyah dari keadaan yang sungguh menyiksa ini.

“Kami harus pergi sekarang. Kamu bisa menghubungiku di nomor handphone yang tertera. Tetaplah menjadi Aditya yang ku kenal. Kami permisi.” Kali ini aku yang menarik tangan Embun, meninggalkan suasana yang mengepung amarahnya dalam emosi semata.

Sesampainya di parkiran, aku dan Embun masih bungkam. Lihat, bahkan saat menaiki motor sport touring bikenya, Embun tak juga menatapku. Ha, seperti berjalan dengan patung. Mesin sudah dinyalakan, tapi aku belum mau dibonceng. Dia masih kaku dan dingin. Aku jadi canggung.

“Kenapa? Kamu ragu? Kalau begitu, kembalilah. Kamu boleh menemui lelaki itu sepuas yang kamu mau. Aku bisa pulang sendiri.” Kesal Embun.

Benar saja. Dia berlalu dengan cepat. Aku ditinggalkan. Ah, tidakkah dengar sedikit penjelasan dariku. Jika begitu, aku yang rugi.

Tak berapa lama, aku memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Perjalanan yang cukup lama bisa menjadi perenunganku. Tidak peduli bagaimana kedua kakiku akan pegal atau tubuhku akan lemah, kecapaian dan semacamnya. Aku hanya perlu mengoreksi diri. Berteman pada sepi dan situasi malam yang penuh teka-teki.

1 kilometer telah ku lintasi. Aku cek handphone, tidak ada pesan atau panggilan dari Embun. Ternyata dia marah sungguhan. Apa begini cara memperlakukan seorang perempuan? Seorang kekasih atau apalah sebutannya. Intinya aku ini orang yang dicintainya. Setidaknya begitu isi dari lagu Naff yang ia nyanyikan di café tadi.

Di persimpangan jalan dekat perumahan elite, ada seekor anjing hitam besar yang sedang memburu makanan atau sedang menyelidik atau apapun itu, yang pasti, aku takut. Aku lirik sekelilingku, tak ada orang selain aku dan suara jangkrik yang terus meramaikan langkahku. Ya, aku berlari, balik arah. Beruntung, aku pernah menang lomba lari di jam pelajaran olahraga sewaktu SMA dulu. Jadi, anjing itu tidak mudah mengejarku.

Ha, betapa terkejutnya. Aku melihat Embun menuntun motor sport bikenya. Aku berjalan tergesa-gesa hingga kami saling berpas-pasan.

“Motormu kenapa?” Tanyaku.
“Kamu yang kenapa? Seperti ketakutan.”
“A-aku tadi, di-dikejar anjing.”

Lihat. Embun tertawa terbahak-bahak. Apa dia tidak tahu seberapa takutnya aku terhadap binatang mengerikan itu? Hitam besar, berbulu lebat dan giginya runcing. Kalaupun ada yang kecil, imut, lucu, berbulu halus putih dan cukup menggemaskan, pastilah anak anjing itu cerewet. Hah.

“Apa ada yang lucu?” Aku cemberut.
“Aku membayangkan bagaimana kamu berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan diri. Apa barang-barangmu masih lengkap? Tidak ada yang ketinggalan?” Tanya Embun, masih dengan tawa yang ia coba lenyapkan.

Tiba-tiba aku sedih, aku ingat kejadian di masa kecilku dengan Aditya. Saat aku mengejarnya sepulang menghadiri pentas seni sekolah. Aditya tidak bilang kalau ia akan pergi ke Pekanbaru. Ia hanya memberiku gantungan kunci, itupun tak sengaja aku hilangkan. Aku lupa terjatuh dimana.

Sejenak Embun iba dengan ekspresi wajahku. Lalu ia meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Dan air mataku pun keluar, aku menangis.

“Maaf, aku tidak ada maksud membuatmu bersedih.” Ungkapnya.
“Aditya itu bukan siapa-siapaku. Kamu jangan begitu. Seenaknya meninggalkanku. Aku kan jadi dikejar anjing.”
“Iyaaa. Ini aku mengikutimu. Kamu tenang saja.”

Sekarang aku yang menertawainya. Lucu sekali. Dia menuntun motornya, demi mengikutiku. Ha, aku terharu.

“Kenapa tertawa?” Embun melepas pelukannya.
“Kamu bilang kamu mengikutiku? Aku kira motormu ini mogok.”
“Mana mungkin aku benar-benar meninggalkanmu sendirian. Aku tidak rela kamu bicara lama dengan lekaki itu. Aku bisa lihat, dari tatapannya, dia sangat merindukanmu.”
“Wah, manis sekali. Kamu cemburu ya?”
“Apa-apan ini? Aku hanya tidak suka cara dia memaksamu untuk bersama.”
“Wajar saja. Dia pacar pertamaku, aku pun pacar pertamanya. 10 tahun berpisah dan kami baru bertemu kembali di café tadi. Ternyata itu miliknya. Dunia memang sempit ya.” Ups. Aku tidak sadar, aku telah menambah rasa cemburu di hatinya.
“Maksudmu apa? Dia cinta masa kecil yang masih kau harapkan begitu?”
“Tidak tidak. Jangan salah sangka.”

Embun menaiki motor sport bike hitam yang gagah dan stylish itu. Lalu menyalakan mesin.

“Ayo pulang. Sebelum anjing itu berhasil mendapatkanmu lagi.” Ajak Embun

Ha, akhirnya. Aku diboncengi dengan kekasih hati yang setia ada selama beberapa tahun belakangan ini. Tersenyum bersama, tertawa bersama, menangis bersama, marah bersama, kesal bersama, kecewa bersama, berjuang bersama dan semoga selalu bersama.

Kami pun melaju. Menyatukan kembali segala rasa yang kami lewati hari ini.

Di sepanjang perjalanan, aku terus merayunya agar melupakan kisahku dengan Aditya. Biarlah itu menjadi masa laluku dengannya. Dan Embun adalah orang yang ku pilih untuk menjadi masa depanku. Masa laluku adalah masa laluku, masa lalunya adalah masa lalunya. Tidak bisa masa laluku menjadi masa lalunya atau masa lalunya menjadi masa laluku. Karena setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing.

“Siapapun pasti punya cinta di masa kecil. Termasuk kamu, termasuk aku. Yang penting sekarang, menatap mantap ke depan. Menoleh ke belakang bukan berarti kembali, tapi mempelajari. Bahwa masa lalu adalah pengalaman yang mencerdaskan kita di masa depan.”

Begitu Embun berujar. Aku jadi tahu, seberapa besar perasaannya untukku. Dan seberapa banyak peranku mempengaruhi jalan hidupnya saat ini.

Minggu, 18 Mei 2014

EMBUN FEAT JINGGA 1


(Seikat Bunga)


Malam ini tempat pertemuan kami benar-benar tidak tepat. Minum kopi susu di sebuah Coffee Shop di bilangan Jakarta Pusat. Pandangan kami dicuri sekerumunan orang yang menempati table dekat kolam ikan. Puncaknya ketika seorang lelaki datang membawa seikat bunga lalu mengucapkan happy birthday pada salah satu perempuan yang ada disana. Aku tahu Embun tidak betah melihat momen seperti itu. Keromantisan yang omong kosong, begitu Embun biasa menyebutnya.

“Mau pulang? Atau masih tahan berada disini?” Tanyaku.
“Biar saja. Kita disini sampai mereka enyah.”Sarannya.
“Kamu yakin? Sepertinya aku yang tidak tahan. Aku ingin ada seseorang yang memberiku seikat bunga. Jika bukan di hari ulang tahun, di hari yang tidak berkesan pun juga boleh. Aku hanya ingin merasakan rasanya punya bunga. Kalau perlu sama pot-potnya sekalian.” Sindirku halus.

Embun terlihat berpikir keras. Aku tahu bagaimana tipenya. Dia seorang pejuang keras. Apalagi demi menyenangkan hati orang yang disayang. Dia mampu melawan rasa takut, rasa benci, rasa jijik bahkan rasa muak. Atas dasar orang yang dicintai. Dan aku optimis, aku percaya diri, aku termasuk orang yang berpengaruh dalam hidupnya.

“Habiskan kopimu. Kita akan jemput Icha. Mulai malam ini dia menginap di rumahku.”
“Ohya? Apa dia akan memaksa tidur denganmu lagi?”
“Ah, jangan banyak berharap. Di kamarku sudah banyak poster zombie dan vampire. Dia tidak akan pernah mau masuk ke rumah hantu.”
“Kenapa begitu? Kamu keterlaluan. Padahal Icha hanya ingin dekat denganmu.”
“Sudahlah, lupakan.” Pintanya sambil merangkulku keluar dari Coffee Shop.

Icha, keponakan Embun yang baru naik kelas 3 SD.

Dengan mobil berkecepatan tinggi yang baru rilis tahun lalu, kami meluncur ke lingkungan Duren Sawit, Jakarta Timur. Gaya pembalapnya yang mahir membuatku terdiam. Entah apa yang ku lihat darinya, hingga aku menyayanginya seperti menyayangi cinta pertamaku. Dia memang tampan, mapan, dewasa, tahu mana yang penting dan mana yang tidak penting. Tapi itu bukan alasanku menyayanginya.

Aku nyaman di dekatnya karena berada di sampingnya bisa membuatku merasa sempurna. Kekuranganku adalah kelebihannya. Kelebihanku adalah kekurangannya. Ya, benar. Kami sangat berbeda. Perbedaan itulah yang menyatukan kami. Embun seorang musisi, musisi yang gila kehormatan, menurutku. Aku adalah Jingga. Jingga yang seorang penulis. Penulis yang mengumpat dibalik huruf dan kalimat-kalimat puitisnya, begitu Embun menyebutku.

“Pokoknya malam ini Icha gak boleh bangunin om buat antar Icha ke toilet. Oke?” Pesan Embun. Kami berhasil menculik Icha. Kebetulan orang tuanya sedang keluar kota.
“Kalau begitu, ijinkan tante Jingga menginap bersama kita. Aku perlu ke toilet di tengah malam. Ya om? Boleh?” Icha merengek. Aku hanya tersenyum lebar, tanda menahan tawa.
“Perempuan dewasa tidak boleh satu tempat tinggal dengan lelaki dewasa. Nanti Icha biar diantar Bik Ida kalau mau ke toilet. Sekarang kita mendarat.” Kata Embun sambil menggendong Icha keluar rumah.

Kami segera menumpangi mobil paling bertenaga itu. Serasi dengan pengendaranya, mereka sama-sama gagah dan terlihat semakin maskulin. Tapi sebelum masuk, aku dan Embun dikejutkan dengan celotehan Icha.

“Tapi Ayah sama Ibu boleh tinggal bersama. Mereka juga satu kamar. Kadang bertiga sama Icha. Kenapa tante Jingga tidak boleh menginap bersama kita?”

Berhenti sejenak, hening. Aku dan Embun saling melirik.

“Karena, besok tante harus bangun pagi buat ke kantor.” Jawabku sekenanya.

Aku bersanding dengan Icha di bangku depan, sebelah kami ialah Embun. Sang pembalap yang siap membawa kami sampai pada kemenangan.

Agar Icha tidak mudah bosan selama perjalanan, aku menyalakan radio. Lagi-lagi, aku melihat Icha masih dengan segala tanda tanyanya. Apa jawabanku tadi belum cukup memuaskan? Pikirku.

“Ayah dan Ibu bilang kalau om Embun sama tante Jingga pacaran. Apa nanti kalian juga akan menikah?”

Pertanyaan macam apa ini, jika terus diladeni bisa-bisa Icha dewasa sebelum waktunya. Embun menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Aku kira dia sudah penat memiliki keponakan seperti Icha. Rasa ingin tahunya tinggi.

“Siapapun juga pasti akan menikah.” Kataku.
“Termasuk Icha?”
“Iyaaa nanti Icha juga menikah.” Jawab Embun sedikit kesal.
“Oh. Aku sudah punya cincin.” Icha memamerkan cincin strawberry di jari manis kirinya.

Lihat. Bahkan aku kalah dengan anak usia 8 tahunan. Embun pura-pura tidak mendengar, sementara aku dilanda iri yang berat. Tega.

Satu jam kemudian, kami tiba di depan gerbang rumah minimalis bercat warna ungu-putih dengan tetumbuhan hijau memenuhi halamannya. Ya, ini rumahku.

“Okey. Sampai jumpa Icha.” Aku mencium kening Icha dan dia menyalamiku.
“Aku pulang, terima kasih ya.” Lanjutku pada Embun. Dia hanya tersenyum kecil.

Turun dari mobil dan bergegas membuka pintu gerbang. Tiba-tiba Embun memanggil. Dia menyusulku. Icha mengintip dari kaca mobil yang terbuka.

“Besok pagi aku jemput, aku antar kamu ke kantor.”
“Lho, buat apa? Besok aku libur.”
“Tadi kamu bilang…”
“Aku mengada-ada. Kamu tahukan karakter Icha bagaimana?” Pelanku.
“Ah, sial. Kalau begitu besok kita ke toko buku.”
“Jangan selalu serius. Sekali-sekali ajak aku ke pantai, gunung atau perkebunan gitu.”
“Hhm, baiklah. Jam 7, dresscode pink ya. See you.” Embun mengacak-acak rambutku lalu pergi.

Kebiasaan Embun yang tidak pernah ku protes adalah, mengaturku. Mulai dari lokasi ketemuan, tempat jalan, menu makanan, minuman, sampai apa yang harus ku pakai, semua instruksi darinya. Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi penurut. Mungkin sejak Jingga mengenal warnanya.

Sabtu pagi menjelang siang, yang menyegarkan. Ini pertama kalinya aku kembali ke Anyer.

Aku tidak percaya datang kesini bersama Embun. Karena t-shirt warna pink dengan jeans hitam dan jam tangan mekanik yang ia kenakan terlalu sederhana untuk seorang musisi. Bukan hanya itu, warna pink juga nyaris membuatku tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin lelaki sekeras kepala Embun memiliki nyali untuk tampil lebih manis? Diakan tipe orang yang gengsian dan cukup pemalu.

“Seharusnya kamu bilang dari awal. Kita bisa pakai baju model couple, tidak hanya warnanya yang sama. Aku tidak yakin kamu baik-baik saja.” Ucapku. Kami jalan berdampingan di tepi pantai. Membuat jejak langkah yang kemudian diterpa ombak dan musnah.
“Jangan tertawa terus begitu. Ini aku lakukan demi kamu.” Embun mendengus kesal.
“Aku tidak pernah meminta tapi kamu melakukannya. Lucu sekali. Kalau memang ini hari bebas harapan, aku akan meminta banyak padamu.”
“Apa?” Embun bersedia.

Ini bukan hari ulang tahunku. Bukan juga hari perempuan, hari kartini, bahkan hari kebebasan nasional. Tapi Embun memasang raut wajah yang serius. Apa dia benar-benar akan menjadi malaikatku dalam sehari?

“Lupakan. Aku bercanda.”
“Aku serius.” Tegasnya.

Kami berhenti tepat ketika matahari bersinar mantap dan hangatnya menjalari tubuh kami. Dia menatapku bagai memohon. Dan aku tidak pernah mampu membalasnya. Aku tidak pernah sanggup melihat kedua matanya yang menghanyutkan. Aku bisa tergila-gila begini pun karena cara dia menatapku. Eagle eye itu.

Tak lama, teriakan seseorang memanggilku. Icha. Dengan seikat bunga mawar merah dipelukannya.

“Untuk tante.” Berinya padaku.
“Ha.” Aku hampir meleleh.
“Darinya.” Icha melirik Embun.

Embun mengalihkan pandangan ke langit pantai. Mimiknya bodoh sekali. Terlihat gengsi dan menutupi.

Aku sudah tahu karakternya dari awal. Gengsi menjadi prioritasnya. Aku menyebut itu sebagai sebuah kelebihan. Karena gengsi yang Embun punya adalah cara mengenali lawan bicaranya atau bisa dibilang ‘Siasat’.

Ha, akhirnya. Seorang musisi yang gila kehormatan memberiku seikat bunga. Seikat bunga yang akan tetap tumbuh dan harum dalam kenangan di hidupku.