Lupakah kau mengapa simfoni-simfoni kita menjadi sendu?
Nada-nada kita menjadi lirih?
Emosi-emosi kita meraung?
Dan harmoni
Dan melodi
Dan orkestra itu menjadi hampa terasa?
Kau tidak ingat?
Semua karena kau terlalu serius ingin menjauh dariku.
Padahal kau tak mampu.
Kau selalu pura-pura tangguh.
Tapi apa?
Kau hanya biola lama yang bertahun-tahun tersimpan.
Kau perlu penyegaran, kau perlu pemikiran baru.
Kau harus menerima bahwa takdir memang menyatukan kita berdua.
(Puisi Pembela)
Untuk sekuel baru, setelah embun dan senja.
Minggu, 06 April 2014
Senin, 31 Maret 2014
SENDIRI
Aku tidak peduli seberapa sering kau
menyakitiku
Aku tidak peduli seberapa banyak kau
melukis luka di hatiku
Aku tidak peduli seberapa pantas kau
untuk ku cintai
Aku tidak peduli seberapa sulit kau ku
lupakan
Aku tidak peduli seberapa besar kau
menghancurkanku
Aku tidak peduli seberapa kuat kau
menjauh dariku
Aku tidak peduli seberapa hebat kau
mengabaikanku
Aku hanya tidak peduli dengan segala
kebodohan ini
Aku masih menangis dan tersenyum karena
dirimu
Aku tahu aku sudah gila
Aku yakin kau akan kembali
Meski sebenarnya kau telah pergi
Meninggalkanku tanpa jelaskan semua yang
pernah terjadi
Membiarkanku hidup bersama rasa tidak
tenang ini
Kau dimana?
Kau tidak melindungiku
Di saat mereka menyudutkanku tentang
perjalanan pulangmu
Kau tidak mencegah mereka yang
menyudutkanku
Kau tidak melakukan apa-apa
Tidak bisa berbuat apa-apa
Kau musnah, lenyap, hilang entah kemana
Kau menitipkanku pada dunia ini
Dunia yang tidak menganggapku
Minggu, 16 Maret 2014
Thanksgiving (SYUKUR)
Aku lahir 19
tahun yang lalu, pada 11 November 1994. Jumat sewaktu subuh. Ibu (Lilis
Suryani) dan Bapak (Samin Sagita), mereka memberiku sebuah nama dengan tiga
kata Delisa Novarina Sagita. Di kala SD (SDN Jaka Mulya 1 – Bekasi Selatan),
teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Chacha. Masa-masa SD adalah masa
kekanak-kanakkanku. Saat itulah aku menemukan sahabat-sahabat kecil yang begitu
berkisah bagiku. Ketika itu juga aku jatuh cinta, cinta pertama. Tepatnya
setelah kelulusan SD. Sungguh hal yang paling sulit diterima, yaitu perpisahan.
Aku harus melanjutkan SMP ke Bekasi Barat, kami pun pindah rumah disana.
SMP. Masa dimana
aku benar-benar telah berubah. Berubah menjadi yang lebih baik. Aku berprestasi,
awalnya masuk peringkat 10 besar, lalu ke-5 besar. Di kelas 2, seseorang hadir
dengan apa adanya. Ya, seseorang yang keras kepala, kepala batu, egois, aneh,
sulit ditebak dan bodohnya lagi, kami sering bertengkar. Tak terasa aku sudah
melaksanakan Ujian Nasional. Semua teman-temanku sibuk mencari SMA yang mereka
idamkan. Semuanya ingin masuk sekolah yang paling favorite, popular, famous,
dan bla bla bla. Sampai akhirnya kami (sahabat yang ku panggil De’Rainbee –
Lila, Kamelia, Masulah) dipisahkan. Kami berbeda SMA.
SMA. Masa yang
selalu aku tunggu, selalu aku bayangkan, selalu aku impikan. Kisahnya yang
katanya menarik, menyenangkan, baik buruk, pintar bodoh, nakal penurut, lengkap
bakalan aku hadapi. Kelas 10, aku masih polos banget. Penampilan seadanya,
jilbab berantakan aku tidak peduli. Aku jelek, aku cuek, aku sederhana. Lalu,
seseorang di musim kemarin datang menghampiriku. Dia menyatakan cintanya. Ya,
seseorang yang menyebalkan itu.
Betapa hebatnya
dia muncul di saat aku sedang lupa pada cinta pertamaku. Parahnya lagi, aku
langsung terharu dan menerima cintanya sebegitu mudah. Dia yang selalu
membuatku kesal, dia yang sama sekali tidak pernah ada di khayalanku, dia yang
bukan seorang pangeran, dia yang sudah cukup menyakitiku dengan kata-kata
hinanya kala itu. Aku menerimanya. Dia adalah pacar pertamaku.
Hukuman. Mungkin
Tuhan ingin menyadarkanku tentang satu hal. TAHU DIRI. Entah bagaimana
ceritanya, lima hari telah aku jalani hubunganku dengan dia. Kami berpacaran. Kami
seperti pasangan anak muda biasanya yang sedang kasmaran. Tapi dua hari
kemudian, dia tidak ada kabar. Tiba-tiba dia menjemput ke rumah dan kami bicara
di luar. Bicara tentang kebohongan. Tentang omong kosong yang nyaris membuatku
ingin menggantung kepalanya di atas jembatan tol. Dia memberiku pilihan, yaitu
teman, sahabat atau tetap pacaran. Sumpah. Apa namanya kalau bukan kemunafikan?
Kami berpacaran lho, meski baru seminggu. Dia tidak mengungkapkan alasannya
memutuskan hubungan kami. Tidak, tidak, dia tidak menyebutkan ‘kita putus’. Dia
hanya ingin aku memilih salah satu dari three points itu. Sudahlah, aku memilih
kita berteman. Ya, hanya berteman. Bukan teman dekat, sahabat, apalagi pacaran.
Ini cukup yang terakhir aku melewati sebuah kisah yang benar-benar memalukan.
Kelas 11, aku
sangat aktif. Bersama beberapa sahabatku di sekolah, kami produktif. Kami sering
ikut olimpiade, lomba-lomba akademik, kami menjadi OSIS. Bernarsis ria, ikut
apa saja yang tidak mengeluarkan biaya. Artinya, kami aktif di dalam sekolah,
juga aktif di luar sekolah. Dengan kesibukan tersebut, aku bisa menyegarkan
pikiranku dan membebaskan bebanku dari permasalahan pacar pertama yang sia-sia
itu. Di sela-sela rutinitasku, dia menampakkan dirinya lagi. Dia, dia yang
mengecewakan, pacar pertama yang luar biasa berkesan.
Satu kali, dua
kali, tiga kali, dia mengajakku kembali, kembali mengisi lembaran baru yang
berjudul ‘pacaran’. Tanpa ragu, aku menolaknya mentah-mentah. Aku muak, aku
murka padanya. Aku tidak sakit hati, tidak juga menyesal karena pernah
diputuskan olehnya. Aku hanya merenung, untuk apa menjalin status yang
sebenarnya belum kami mengerti? Buang-buang waktu saja. Akhirnya, kami membuat
sebuah perjanjian. Jika aku memiliki pacar, dia juga harus memiliki pacar. Kami
harus berlabuh di cinta orang lain. Kami harus belajar, memahami apakah kami
memang saling mencintai? Begitu. Tak lama, seorang teman memperkenalkanku pada
temannya. Aku dan temannya itu pun berpacaran. Selang beberapa hari, dia
berpacaran juga dengan perempuan lain. Dunia ini sempit, itu benar. Pacarku
ternyata satu sekolah dengan pacarnya, bahkan mereka sekelas. Mereka juga
saling mengenal. Alhasil, ketemulah kami berempat. Ada resah, ada gelisah, ada
perasaan yang tidak enak pokoknya. Ini lelucon bukan? Aku dengan si A, dia
dengan si B. Si A dan si B teman sekelas di sekolahnya. Mengagumkan. Tuhan mempertemukan
kami dalam kisah yang begini. Begini membingungkan.
Beberapa bulan
kemudian. Aku tak sanggup, aku tak mampu berbohong demi kebaikan. Kebaikan siapa?
Pikirku. Aku pun memutuskan pacarku. Alasannya karena aku ingin serius belajar,
fokus ke Ujian Nasional. Aku mengira dia juga akan memutuskan pacarnya setelah
aku memutuskan pacarku. Sial, ternyata tidak. Dia bertahan dengan perempuan
itu. Perempuan yang sudah menganggapku sebagai seorang sahabat. Aku semakin
kacau memikirkannya. Apa sih yang ada di isi kepala perempuan itu? Aku ini
mantan pacar kekasihnya. Mereka bermesraan, mereka berbincang seru di depanku. Hah.
Aku hampir gila.
Dua tahun
berjalan sebegitu cepatnya. Aku masih sendiri. Mereka masih merajut kisah cinta
berdua. Anggap saja kesendirianku ini adalah toleransi. Suatu saat nanti Tuhan
akan memberiku laki-laki yang jauh lebih baik dari dia, laki-laki yang tidak
sekonyol dia, laki-laki yang tahu bagaimana caranya mencintai. Semoga.
Kini, aku
menjadi diriku sendiri. Dengan sekian banyak rencana-rencanaku, resolusiku di
setiap tahunnya, impian-impian, aku bangun dan berdiri, mulai berlari walau
lambat, namun pasti dan bertujuan. Ini aku, ini diriku. Ini hidup, maka jalani
saja.
Sampai jumpa,
wahai pintu yang terbuka. Aku bersyukur aku telah dilahirkan. Berharap pada waktunya
nanti, ketika aku pergi untuk selamanya, surga menyambutku dengan suka cita dan
keagungan-Nya. Terima kasih. Aku mencintai-Mu.
AKU sewaktu SMP
AKU sewaktu SMA
AKU kini
Perubahan pasti ada. Namun watak dan karakter masih sama.
Aku hanya ingin terus belajar, belajar dan selalu belajar.
Semakin berusaha, bekerja keras, dekat dengan-Nya dan lebih baik lagi.
Delisa Novarina.
Perempuan dari imaji sang pemimpi.
Jumat, 14 Maret 2014
A Symphony
Kelemahanku: JATUH CINTA
Sadarkah hati ini ketika berlabuh
Terasa ada sesuatu dan tak menentu
Sempit, sesak, menyiksa juga derita
Sedikit saja ceria, bahagia, lalu
hilang sisakan jejak
Bila dekat aku mengunci setiap kata
Diam menikmati detak jantung yang
bergema
Bila jauh aku simpan seribu kalimat
Malang berteman dengan sepi yang
mendukung suasana hati
Aku
Namaku Senja
Aku hadir setelah matahari terbenam
Kamu
Namamu Embun
Kamu hadir setelah fajar bersinar
Jika aku boleh memilih
Tak ingin ku jatuhkan hati pada
penguasa di pagi hari
Yang menyegarkan
Pergi begitu saja lalu muncul sehabis
hujan
Dan aku belum mampu menolak
Ketika cinta datang menyeretku ke
hadapanmu
Membuat getaran dalam dada yang begitu
mengguncang
Jatih cinta
Aku lemah dikendalikannya
Aku lemah meratapinya
Aku lemah berkolaborasi dengannya
Ini seperti pintu yang terkunci
kemudian terbuka
Aku sendiri gugup untuk menutupnya
lagi
Karena tubuhku kaku
Kedua tanganku beku
Kedua kakiku rapuh
Kini
Akan ku kenang segala yang telah
terjadi
Meski berjuta bahasa tak sanggup
mewakili semua rasa
Dapat ku pastikan tak akan ada yang
terlupa
Note:
Kata-kata
yang berbicara. Ini sekedar curahan atau tumpahan atau luahan atau ungkapan
sih. Lebih jelasnya susah dicoret-coret disini. Pokoknya a banget deh, nafas
saya sampai tak beraturan selama menuliskannya. Butuh banyak kekuataaan. v
(^_^) v
Kamis, 06 Februari 2014
Peri Kecil (Kebahagianku juga)
Air mataku mudah menetes
Setiap kali ku lihat Peri Kecil itu
Wajahnya
Senyumnya
Keceriaannya
Sama persis seperti Embun
Embun
Meskipun aku menyukaimu
Percayalah
Aku bisa jika tidak memilikimu
Jadi, bolehkah
Peri Kecilmu menjadi kebahagiaanku juga?
Setiap kali ku lihat Peri Kecil itu
Wajahnya
Senyumnya
Keceriaannya
Sama persis seperti Embun
Embun
Meskipun aku menyukaimu
Percayalah
Aku bisa jika tidak memilikimu
Jadi, bolehkah
Peri Kecilmu menjadi kebahagiaanku juga?
Peri Kecil
Embun dan Senja
Jingga hanya orang lain
Senja (Perempuan pilihan)
Hay Senja
Kalau kita bertemu aku ingin katakan satu hal
KAMU BERUNTUNG
Tapi aku berharap kau tak pernah tahu
Kisahku dan Embun
Kau sudah sangat baik
Aku percaya Embun mencintaimu dengan sungguh
Dan aku tak bisa menghancurkan itu
Senja
Jika Peri Kecil adalah titipan Tuhan untukmu dan Embun
Maka aku titip Embun untuk selalu kau jaga
Untuk selalu kau kasihi
Mungkin aku tak lebih dari Angin
Aku cepat berlalu
Tapi aku juga perempuan
Aku punya perasaan yang sama sepertimu
Kalau kita bertemu aku ingin katakan satu hal
KAMU BERUNTUNG
Tapi aku berharap kau tak pernah tahu
Kisahku dan Embun
Kau sudah sangat baik
Aku percaya Embun mencintaimu dengan sungguh
Dan aku tak bisa menghancurkan itu
Senja
Jika Peri Kecil adalah titipan Tuhan untukmu dan Embun
Maka aku titip Embun untuk selalu kau jaga
Untuk selalu kau kasihi
Mungkin aku tak lebih dari Angin
Aku cepat berlalu
Tapi aku juga perempuan
Aku punya perasaan yang sama sepertimu
SENJA
Salam dari Jingga
Embun (Kisah yang tak pernah usai)
Embun
Kadang ku berpikir ingin menjadi Daun
Karena disanalah tempatmu mencurahkan
Embun
Seharusnya aku jangan pernah menemuimu
Karena aku sadar
Setelah pertemuan pasti ada hal-hal lainnya
Yang akan terjadi
Embun
Aku adalah Jingga
Salah satu warna di Pelangi
Pelangi ada setelah hujan
Begitu pula aku ada sebelum Senja bercahaya
Embun
Kau memang ditakdirkan untuk berdua
Bersama selamanya dengan Senja
Embun
Sang Fajar tak pernah terlambat bersinar
Ia hanya belum menemukanku
Embun dan Jingga (BUNGA)
Kisah kita tak pernah usai
Kadang ku berpikir ingin menjadi Daun
Karena disanalah tempatmu mencurahkan
Embun
Seharusnya aku jangan pernah menemuimu
Karena aku sadar
Setelah pertemuan pasti ada hal-hal lainnya
Yang akan terjadi
Embun
Aku adalah Jingga
Salah satu warna di Pelangi
Pelangi ada setelah hujan
Begitu pula aku ada sebelum Senja bercahaya
Embun
Kau memang ditakdirkan untuk berdua
Bersama selamanya dengan Senja
Embun
Sang Fajar tak pernah terlambat bersinar
Ia hanya belum menemukanku
Embun dan Jingga (BUNGA)
Kisah kita tak pernah usai
Embun dan Senja
Jingga dan Fajar
Peri Kecil
juga
sosok imaginer yang masih dicari
Langganan:
Postingan (Atom)




