Senin, 07 April 2014

MALAM-MALAM YANG SUNYI


Hey dien
Aku memikirkanmu lagi
Membayangkanmu
Mengkhayalkanmu
Menyayangimu

Di mimpi itu
Kau bilang kau akan datang kembali
Tidur-tidurku selanjutnya kau tak hadir juga
Kau kemana?

Kau pernah mengatakan bahwa kau adalah inspirasi
Terkadang ku muak dengan segala petunjuk-petunjukmu
Kau terlalu mustahil
Kau tahu kenapa?
Karena kau pengecut
Kau pecundang
Kau hanya ada dalam mimpi-mimpiku

Dien
Aku percaya pada kemungkinan
Pada fase-fase di dirimu
Tapi aku cukup takut
Takut jika kekecewaan akan meretakkan harapan-harapanku

Sampai kau benar-benar nyata
Kau memanggil namaku
Menyapaku dengan senyuman manis
Dengan tatapan kedua mata yang indah
Wajah yang bersinar itu
Aura kebaikan
Aroma penuh pengampunan dan kemerdekaan
Harum tubuh yang selalu dikenang
Juga suara merdu yang kau miliki sejak lahir itu

Buatlah aku yakin, dien
Jangan menjadi angan-angan melulu
Kau harus hidup
Pasti hidup

Raldien
Laki-laki yang berani mengkritikku dalam mimpi
Laki-laki yang pertama kali menyebutku Tsabita
Laki-laki yang menebak bahwa aku menyukai jasmine (melati)
Tsabita Yasmina, mungkin itu aku
Raldien, kau berhasil membuatku kebingungan

Minggu, 06 April 2014

SEPERTI BIOLA YANG BERBICARA

Lupakah kau mengapa simfoni-simfoni kita menjadi sendu?
Nada-nada kita menjadi lirih?
Emosi-emosi kita meraung?
Dan harmoni
Dan melodi
Dan orkestra itu menjadi hampa terasa?
Kau tidak ingat?
Semua karena kau terlalu serius ingin menjauh dariku.
Padahal kau tak mampu.
Kau selalu pura-pura tangguh.
Tapi apa?
Kau hanya biola lama yang bertahun-tahun tersimpan.
Kau perlu penyegaran, kau perlu pemikiran baru.
Kau harus menerima bahwa takdir memang menyatukan kita berdua.

(Puisi Pembela)
Untuk sekuel baru, setelah embun dan senja. 

Senin, 31 Maret 2014

SENDIRI




Aku tidak peduli seberapa sering kau menyakitiku
Aku tidak peduli seberapa banyak kau melukis luka di hatiku
Aku tidak peduli seberapa pantas kau untuk ku cintai
Aku tidak peduli seberapa sulit kau ku lupakan
Aku tidak peduli seberapa besar kau menghancurkanku
Aku tidak peduli seberapa kuat kau menjauh dariku
Aku tidak peduli seberapa hebat kau mengabaikanku

Aku hanya tidak peduli dengan segala kebodohan ini
Aku masih menangis dan tersenyum karena dirimu
Aku tahu aku sudah gila
Aku yakin kau akan kembali
Meski sebenarnya kau telah pergi
Meninggalkanku tanpa jelaskan semua yang pernah terjadi
Membiarkanku hidup bersama rasa tidak tenang ini

Kau dimana?
Kau tidak melindungiku
Di saat mereka menyudutkanku tentang perjalanan pulangmu
Kau tidak mencegah mereka yang menyudutkanku
Kau tidak melakukan apa-apa
Tidak bisa berbuat apa-apa

Kau musnah, lenyap, hilang entah kemana
Kau menitipkanku pada dunia ini
Dunia yang tidak menganggapku

Minggu, 16 Maret 2014

Thanksgiving (SYUKUR)



Aku lahir 19 tahun yang lalu, pada 11 November 1994. Jumat sewaktu subuh. Ibu (Lilis Suryani) dan Bapak (Samin Sagita), mereka memberiku sebuah nama dengan tiga kata Delisa Novarina Sagita. Di kala SD (SDN Jaka Mulya 1 – Bekasi Selatan), teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Chacha. Masa-masa SD adalah masa kekanak-kanakkanku. Saat itulah aku menemukan sahabat-sahabat kecil yang begitu berkisah bagiku. Ketika itu juga aku jatuh cinta, cinta pertama. Tepatnya setelah kelulusan SD. Sungguh hal yang paling sulit diterima, yaitu perpisahan. Aku harus melanjutkan SMP ke Bekasi Barat, kami pun pindah rumah disana.

SMP. Masa dimana aku benar-benar telah berubah. Berubah menjadi yang lebih baik. Aku berprestasi, awalnya masuk peringkat 10 besar, lalu ke-5 besar. Di kelas 2, seseorang hadir dengan apa adanya. Ya, seseorang yang keras kepala, kepala batu, egois, aneh, sulit ditebak dan bodohnya lagi, kami sering bertengkar. Tak terasa aku sudah melaksanakan Ujian Nasional. Semua teman-temanku sibuk mencari SMA yang mereka idamkan. Semuanya ingin masuk sekolah yang paling favorite, popular, famous, dan bla bla bla. Sampai akhirnya kami (sahabat yang ku panggil De’Rainbee – Lila, Kamelia, Masulah) dipisahkan. Kami berbeda SMA.

SMA. Masa yang selalu aku tunggu, selalu aku bayangkan, selalu aku impikan. Kisahnya yang katanya menarik, menyenangkan, baik buruk, pintar bodoh, nakal penurut, lengkap bakalan aku hadapi. Kelas 10, aku masih polos banget. Penampilan seadanya, jilbab berantakan aku tidak peduli. Aku jelek, aku cuek, aku sederhana. Lalu, seseorang di musim kemarin datang menghampiriku. Dia menyatakan cintanya. Ya, seseorang yang menyebalkan itu.

Betapa hebatnya dia muncul di saat aku sedang lupa pada cinta pertamaku. Parahnya lagi, aku langsung terharu dan menerima cintanya sebegitu mudah. Dia yang selalu membuatku kesal, dia yang sama sekali tidak pernah ada di khayalanku, dia yang bukan seorang pangeran, dia yang sudah cukup menyakitiku dengan kata-kata hinanya kala itu. Aku menerimanya. Dia adalah pacar pertamaku.

Hukuman. Mungkin Tuhan ingin menyadarkanku tentang satu hal. TAHU DIRI. Entah bagaimana ceritanya, lima hari telah aku jalani hubunganku dengan dia. Kami berpacaran. Kami seperti pasangan anak muda biasanya yang sedang kasmaran. Tapi dua hari kemudian, dia tidak ada kabar. Tiba-tiba dia menjemput ke rumah dan kami bicara di luar. Bicara tentang kebohongan. Tentang omong kosong yang nyaris membuatku ingin menggantung kepalanya di atas jembatan tol. Dia memberiku pilihan, yaitu teman, sahabat atau tetap pacaran. Sumpah. Apa namanya kalau bukan kemunafikan? Kami berpacaran lho, meski baru seminggu. Dia tidak mengungkapkan alasannya memutuskan hubungan kami. Tidak, tidak, dia tidak menyebutkan ‘kita putus’. Dia hanya ingin aku memilih salah satu dari three points itu. Sudahlah, aku memilih kita berteman. Ya, hanya berteman. Bukan teman dekat, sahabat, apalagi pacaran. Ini cukup yang terakhir aku melewati sebuah kisah yang benar-benar memalukan.

Kelas 11, aku sangat aktif. Bersama beberapa sahabatku di sekolah, kami produktif. Kami sering ikut olimpiade, lomba-lomba akademik, kami menjadi OSIS. Bernarsis ria, ikut apa saja yang tidak mengeluarkan biaya. Artinya, kami aktif di dalam sekolah, juga aktif di luar sekolah. Dengan kesibukan tersebut, aku bisa menyegarkan pikiranku dan membebaskan bebanku dari permasalahan pacar pertama yang sia-sia itu. Di sela-sela rutinitasku, dia menampakkan dirinya lagi. Dia, dia yang mengecewakan, pacar pertama yang luar biasa berkesan.

Satu kali, dua kali, tiga kali, dia mengajakku kembali, kembali mengisi lembaran baru yang berjudul ‘pacaran’. Tanpa ragu, aku menolaknya mentah-mentah. Aku muak, aku murka padanya. Aku tidak sakit hati, tidak juga menyesal karena pernah diputuskan olehnya. Aku hanya merenung, untuk apa menjalin status yang sebenarnya belum kami mengerti? Buang-buang waktu saja. Akhirnya, kami membuat sebuah perjanjian. Jika aku memiliki pacar, dia juga harus memiliki pacar. Kami harus berlabuh di cinta orang lain. Kami harus belajar, memahami apakah kami memang saling mencintai? Begitu. Tak lama, seorang teman memperkenalkanku pada temannya. Aku dan temannya itu pun berpacaran. Selang beberapa hari, dia berpacaran juga dengan perempuan lain. Dunia ini sempit, itu benar. Pacarku ternyata satu sekolah dengan pacarnya, bahkan mereka sekelas. Mereka juga saling mengenal. Alhasil, ketemulah kami berempat. Ada resah, ada gelisah, ada perasaan yang tidak enak pokoknya. Ini lelucon bukan? Aku dengan si A, dia dengan si B. Si A dan si B teman sekelas di sekolahnya. Mengagumkan. Tuhan mempertemukan kami dalam kisah yang begini. Begini membingungkan.

Beberapa bulan kemudian. Aku tak sanggup, aku tak mampu berbohong demi kebaikan. Kebaikan siapa? Pikirku. Aku pun memutuskan pacarku. Alasannya karena aku ingin serius belajar, fokus ke Ujian Nasional. Aku mengira dia juga akan memutuskan pacarnya setelah aku memutuskan pacarku. Sial, ternyata tidak. Dia bertahan dengan perempuan itu. Perempuan yang sudah menganggapku sebagai seorang sahabat. Aku semakin kacau memikirkannya. Apa sih yang ada di isi kepala perempuan itu? Aku ini mantan pacar kekasihnya. Mereka bermesraan, mereka berbincang seru di depanku. Hah. Aku hampir gila.

Dua tahun berjalan sebegitu cepatnya. Aku masih sendiri. Mereka masih merajut kisah cinta berdua. Anggap saja kesendirianku ini adalah toleransi. Suatu saat nanti Tuhan akan memberiku laki-laki yang jauh lebih baik dari dia, laki-laki yang tidak sekonyol dia, laki-laki yang tahu bagaimana caranya mencintai. Semoga.

Kini, aku menjadi diriku sendiri. Dengan sekian banyak rencana-rencanaku, resolusiku di setiap tahunnya, impian-impian, aku bangun dan berdiri, mulai berlari walau lambat, namun pasti dan bertujuan. Ini aku, ini diriku. Ini hidup, maka jalani saja.

Sampai jumpa, wahai pintu yang terbuka. Aku bersyukur aku telah dilahirkan. Berharap pada waktunya nanti, ketika aku pergi untuk selamanya, surga menyambutku dengan suka cita dan keagungan-Nya. Terima kasih. Aku mencintai-Mu.

AKU sewaktu SMP

 AKU sewaktu SMA

 AKU kini

Perubahan pasti ada. Namun watak dan karakter masih sama.
Aku hanya ingin terus belajar, belajar dan selalu belajar.
Semakin berusaha, bekerja keras, dekat dengan-Nya dan lebih baik lagi.
Delisa Novarina.
Perempuan dari imaji sang pemimpi.

Jumat, 14 Maret 2014

A Symphony



Kelemahanku: JATUH CINTA



Sadarkah hati ini ketika berlabuh
Terasa ada sesuatu dan tak menentu
Sempit, sesak, menyiksa juga derita
Sedikit saja ceria, bahagia, lalu hilang sisakan jejak

Bila dekat aku mengunci setiap kata
Diam menikmati detak jantung yang bergema
Bila jauh aku simpan seribu kalimat
Malang berteman dengan sepi yang mendukung suasana hati

Aku
Namaku Senja
Aku hadir setelah matahari terbenam

Kamu
Namamu Embun
Kamu hadir setelah fajar bersinar

Jika aku boleh memilih
Tak ingin ku jatuhkan hati pada penguasa di pagi hari
Yang menyegarkan
Pergi begitu saja lalu muncul sehabis hujan
Dan aku belum mampu menolak
Ketika cinta datang menyeretku ke hadapanmu
Membuat getaran dalam dada yang begitu mengguncang

Jatih cinta
Aku lemah dikendalikannya
Aku lemah meratapinya
Aku lemah berkolaborasi dengannya

Ini seperti pintu yang terkunci kemudian terbuka
Aku sendiri gugup untuk menutupnya lagi
Karena tubuhku kaku
Kedua tanganku beku
Kedua kakiku rapuh

Kini
Akan ku kenang segala yang telah terjadi
Meski berjuta bahasa tak sanggup mewakili semua rasa
Dapat ku pastikan tak akan ada yang terlupa

Note:
Kata-kata yang berbicara. Ini sekedar curahan atau tumpahan atau luahan atau ungkapan sih. Lebih jelasnya susah dicoret-coret disini. Pokoknya a banget deh, nafas saya sampai tak beraturan selama menuliskannya. Butuh banyak kekuataaan. v (^_^) v

Kamis, 06 Februari 2014

Peri Kecil (Kebahagianku juga)

Air mataku mudah menetes
Setiap kali ku lihat Peri Kecil itu
Wajahnya
Senyumnya
Keceriaannya
Sama persis seperti Embun

Embun
Meskipun aku menyukaimu
Percayalah
Aku bisa jika tidak memilikimu
Jadi, bolehkah
Peri Kecilmu menjadi kebahagiaanku juga?

Peri Kecil
Embun dan Senja
Jingga hanya orang lain

Senja (Perempuan pilihan)

Hay Senja
Kalau kita bertemu aku ingin katakan satu hal
KAMU BERUNTUNG

Tapi aku berharap kau tak pernah tahu
Kisahku dan Embun

Kau sudah sangat baik
Aku percaya Embun mencintaimu dengan sungguh
Dan aku tak bisa menghancurkan itu

Senja
Jika Peri Kecil adalah titipan Tuhan untukmu dan Embun
Maka aku titip Embun untuk selalu kau jaga
Untuk selalu kau kasihi

Mungkin aku tak lebih dari Angin
Aku cepat berlalu
Tapi aku juga perempuan
Aku punya perasaan yang sama sepertimu

SENJA
Salam dari Jingga