Kamis, 12 Juni 2014

EMBUN FEAT JINGGA 7



(Senja Bersahaja)

“Kenapa kesini? Kamu bilang kita akan nonton film baru, kamu membohongiku?” Protes Embun.
Setelah berada di depan toko buku di sebuah Mall, di bilangan Jakarta Selatan, Embun mendengus kesal. Aku tahu akhir-akhir ini dia sedang malas membaca buku, kecuali majalah, ya majalah musik, tentang musik, selalu musik.
“Sebentar saja. Ada buku yang ingin ku beli.” Aku menarik kedua tangannya, memaksanya untuk mau menurutiku.

Berhasil. Aku menelusuri rak-rak buku best seller, buku laris dan buku baru. Terutama genre novel roman. Raut muka Embun kusam, tidak seantusias tadi ketika tujuan pertamaku adalah mengajaknya nonton film di bioskop. Baginya, aku sungguh menyebalkan.

Dia memandang murka pada setiap buku yang tertangkap kedua matanya. Sebenarnya, Embun suka membaca, genre apapun itu. Tetapi, entah mengapa, dia menjadi sangat segan untuk melahap ratusan lembar halaman yang berisi tulisan semua, tanpa ada gambar atau warna, kecuali cover dan backcovernya.

“Nah, ini yang ku cari. Bagaimana? Baguskan?” Tanyaku, sambil menunjukkan padanya sebuah novel roman berjudul ‘Cinta Harus Memiliki’.

Embun hanya melirik sekilas lalu menggelengkan kepala. Aku mengerti apa yang ada di dalam pikirannya, novel itu terlalu mengharukan. Ya, cukup salut dengan ketangguhan dari judul tersebut. Bahkan bisa dibayangkan, bisa ditebak, bagaimana si penulis sangat optimis menyampaikan pesan yang ingin disebarkannya. Tetapi sedikit cengeng. Dan Embun kurang menyukai itu. Ha, seorang musisi seperti dirinya seharusnya bisa mengapresiasi buku bergenre apapun, tidak memihak pada apa yang menjadi kesukaannya saja. Atau dia sedang trauma? Tidak nafsu membaca buku fiksi?

Lihat, sebuah buku yang dia pegang, buku tentang perjalanan hidup seorang maestro biola Indonesia yang telah meninggal dunia. Aku sadar, aku patut bangga memiliki kekasih seperti Embun. Selera bacanya tinggi.

“Hey, sudah lama tidak bertemu. Masih ingat dengankukan?” Seorang perempuan tiba-tiba menghampiri Embun. Membuatnya tercengang.
“Ternyata bertemu di tempat seperti ini. Dan buku bacaanmu tidak pernah berubah.” Lanjutnya.

Huh, siapa perempuan itu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Penampilannya jauh lebih baik dariku. Ibarat buku tulis anak sekolah, ada yang disampul, ada yang tidak. Dia berjilbab, aku tidak. Perempuan muslim macam apa aku ini? Batinku.

Embun melirik ke sekitar perempuan yang ada di hadapannya. Mencari seseorang.

“Aku sendirian. Fajar tidak ikut.” Celotehnya.

Kejutan! Aku muncul mendadak. Bukan maksud ingin membuat jantung Embun dan perempuan itu berdetak hebat. Tetapi aku ingin mencairkan suasana. Aku merasa Embun cukup tegang dan ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Mungkin rindu, mungkin juga ketidaksangkaan, atau canggung. Ah, tentu saja. Sesuatu itu yang membuat mereka menjadi canggung, sesuatu yang tidak bisa aku tebak, sesuatu yang hanya mereka yang tahu dan merasakannya.

“Hey, i-ni pasti yang namanya Jingga. Hallo, salam kenal, aku Senja.” Dia mengulurkan tangan.
“Iya, salam kenal.” Kami bersalaman.

Senyumnya manis sekali. Aku sampai iri. Mengapa ada senyum semanis itu? Senyum yang mampu meluluhkan hati lawan bicaranya. Bahkan aku tidak punya lesung pipit seperti dia. Ha, serius, aku sudah kalah banyak.

“Aku pacarnya Fajar. Fajar sering cerita tentang kamu. Tentang seseorang yang Embun sanjung-sanjungkan. Seseorang yang bisa menakhlukkannya. Membuatnya lebih bersemangat, lebih menikmati hidup dan yang pasti, lebih menghargai dirinya sendiri.” Ungkap Senja.

Mungkin Senja seorang pendengar yang baik. Aku tidak boleh berprasangka curiga dahulu. Apa yang Senja ungkapkan adalah hal-hal yang ia ketahui tentang Embun dari Fajar. Dari kekasihnya. Tak lain, tak bukan, Embun merupakan calon kakak iparnya. Tentu Senja mulai mengenali kehidupan keluarga Fajar, termasuk Embun.

Ah, tetapi kenapa tatapan mereka sama? Embun tidak pernah menatapku seperti itu, seperti ia menatap Senja kini.

“Ish, kak Fajar curang. Dia cerita ke kakak tentang aku, tetapi dia tidak pernah cerita ke aku tentang kakak. Pandai sekali dia menyembunyikan status percintaannya. Mempunyai pacar secantik kakak pasti membanggakan ya? Benarkan?” Kataku. Memandang Senja dan Embun bergantian. Mereka sedikit salah tingkah.
“Jangan banyak bicara. Sebaiknya kita bayar buku yang mau kamu beli sekarang.” Embun mengalihkan. Dia merangkulku untuk segera pergi ke kasir.
“Apa sih, aku belum selesai bicara dengan kak Senja.” Aku cukup kesal. Embun selalu merusak suasana. Dia tidak pernah membuat lawan bicaranya merasa nyaman lebih lama berada di dekatnya. Huft. Selalu menjengkelkan.
“Tidak apa-apa, lain waktu kita bisa bicara banyak.” Sambung Senja.
“Baiklah, mohon maaf atas perlakuan bocah ini ya kak.” Mohonku.
“Siapa yang kamu sebut bocah?” Tanya Embun geram.
“Ah, memangnya siapa yang ku sebut bocah.” Aku mengelak.

Senja tersenyum kecil. Entah ikut senang, menganggap ini lelucon atau apalah itu yang ada di benaknya, intinya dia merasa lega. Hatinya sedikit lebih lapang. Seperti beban yang selama ini menumpuk di pundaknya, sedikit demi sedikit telah hilang.

“Sabtu ini kalian ikut Fajar ke Ambon kan?” Tanya Senja memastikan, sebelum kami benar-benar meninggalkannya.

Aku menatap Embun licik. Hehe. Rupanya ada tanda-tanda bahwa Senja juga ikut bersama Fajar. Pastinyalah, dia kan pacar.

“Iya kak.” Jawabku teguh.
“Okey, sampai jumpa nanti.” Harap Senja.

Dia berlalu begitu saja. Yang penting aku sudah tahu, aku akan bertemu dengannya lagi. 7 hari di Ambon, Embun tidak boleh mengacaukan pendekatanku dengan Senja. Sekali saja dia tidak jahat tehadapku, tidak bisa ya? Ha, kekasih macam apa si dia itu? Sebentar menyenangkan, sebentar menyebalkan.

“Hhm, kak Fajar beruntung sekali mempunyai pacar seperti kak Senja. Sholeha, bersahaja, punya lesung pipit, senyumnya manis, cantik. Nyaris sempurna deh pokoknya.” Pujiku.
“Jangan berlebihan. Tidak ada yang nyaris sempurna di dunia ini. Bungkusan yang indah belum tentu isinya juga indah.” Sindir Embun.
“Maksudmu apa?”
“Tidak ada maksud apa-apa.”

Kami mengantri di kasir. Selama itu pula kami berdebat dan terus saja terlihat tidak akur.

Di perjalanan menuju parkiran, aku memikirkan sesuatu. Aku penasaran dengan Senja. Setelah aku satukan semua pertanda, semua pernyataan dari Senja dengan masa lalu Embun dan Fajar yang pernah menyukai satu perempuan yang sama ketika SMA. Aku menemukan kesimpulannya. Ya, Senja bukanlah orang baru dalam hidup Embun. Senja kekasih Fajar, Senja itu adalah cinta pertama Embun. Cinta yang Embun relakan untuk saudara kembarnya. Ha, aku mendadak lemas, tidak bertenaga. Rasanya seperti dipukul benda keras dan aku menjadi sangat berat untuk melangkah.

“Kenapa?” Tanya Embun. Dia khawatir melihat wajahku yang memucat. Aku urungkan niat untuk mengatakan apa yang ingin aku ungkapkan. Sebenarnya aku sedih, aku kecewa, aku tidak enak hati. Aku seperti orang bodoh, aku baru menyadari siapa Senja sekarang. Sungguh telat. Tetapi, mungkin ini cara Tuhan demi meminimalisir pertengkaran aku dan Embun. Tuhan memang maha penyayang.

Jumat, 23 Mei 2014

EMBUN FEAT JINGGA 6



(Puisi Tanpa Judul)

Kembali ke Jakarta.

“Hey, apa kalian tidak punya tempat favorite yang lebih menarik daripada Anyer? Semua gambar-gambar disini hanya pemandangan pantai. Membosankan. Aku heran dengan gaya berpacaran kalian.” Celoteh Fajar ketika melihat foto-foto di kamera Embun.

Embun tak mempedulikannya. Sementara aku, aku membenarkan pendapat Fajar.

“Kamukan tahu seperti apa kembaranmu itu.” Balasku.
“Ya, aku tahu persis. Dari dulu dia memang tidak berubah.”

Sebentar lagi kami sampai di daerah rumahku. Kami melewati sebuah sekolah SMA swasta. Sudah lewat jam pulang, ternyata masih ada beberapa siswi yang bertengger di pinggir jalanan. Letaknya memang di depan jalan raya besar. Dan lihat, Fajar berulah. Dia membuka kaca mobilnya dan mendongak ke arah siswi-siswi SMA itu. Tak lupa melambaikan tangan. Ha, tebar pesona sekali. Dasar resek.

“Mereka bukan fansmu. Tidak perlu bertingkah bak seorang superstar. Memalukan.” Cibir Embun.
“Syirik saja.” Fajar mendengus kesal. Aku hanya menggelengkan kepala. Keduanya selalu punya topik untuk dipermasalahkan. Apa ini menyenangkan? Sebuah permainan begitu? Hu.

Okay, tiba di rumah. Aku turun dari mobil setelah berpamitan dengan Embun dan Fajar.

“Akhir bulan kalian boleh ikut aku ke Ambon. Kebetulan aku ada kerjaan disana. Sesekalilah liburan ke luar kota.” Teriak Fajar.
“Ha, yang benar? Antusias banget nih.”
“Iya. Seminggu saja. Persiapkan dari sekarang.”
“Siaaap.” Aku mengacungkan jempol.

Embun menatapku pergi sampai tak terpandang lagi. Fajar sangat baik. Dia mengerti apa yang ku mau dan apa yang ku inginkan dari Embun. Akhirnya akan ada waktu dimana aku dan Embun bersama dalam waktu yang lama. 7 hari.

“Tidak ada cium tangan, cium kening atau cipika-cipiki gitu? Hampa rasanya melihat hubungan kalian yang begini-begini saja.” Ulas Fajar, seketika Embun melajukan mobilnya dengan cepat.
“Memangnya kenapa?”
“Bukan seperti orang pacaran. Kalian lebih mirip om dengan keponakannya.”
“Ah, sial.” Embun kesal. Dia melempar Fajar dengan kotak tisu.

17 jam kemudian.

Pagi yang sama menurut Indah. Penjual Koran di sekitar Pancoran yang masih berusia 10 tahunan. Menulis puisi sebelum berangkat bekerja, lalu mulai menjual koran sampai petang. Kegiatannya hanya itu semenjak dua tahun silam. Tepatnya ketika dia berhenti sekolah karena kekurangan biaya.

Indah tinggal di sebuah panti asuhan di Tebet. Bersama 12 anak lainnya, hanya Indah yang mau bekerja sebagai penjual koran. Teman-temannya tetap betah berdiam diri di rumah sambil menjahit dan menyulam yang hasilnya akan dijual ke para donator.

Indah berbeda. Dia memilih banyak hidup di luar daripada di dalam atau disitu-situ saja. Karena hal itu dia lakukan untuk sebuah misi. Misinya demi persahabatan.

“Hey, ada berita apa pagi ini?” Tanyaku seraya membuka kaca mobil.

Lampu merah yang mengambil waktu ratusan detik itu cukup sia-sia jika tidak digunakan sebaik-baiknya. Ketika melihat anak penjual koran ini, aku merasa dia berusaha menyampaikan sesuatu. Jadi, aku putuskan untuk memanggilnya sebentar.

“Menteri agama ketahuan korupsi bu.” Jawabnya sambil menyodorkan koran yang dia pegang. Dia juga menggendong banyak koran. Hu, pasti butuh perjuangan ya agar bisa makan dan minum selayaknya.
“Selain itu?” Aku cukup terharu. Kasihan anak ini, batinku.
“Kekalahan tim Uber Indonesia.” Sebutnya lagi, polos sekali.
“Anak pintar.” Kataku, menepuk bahunya.
“Dua koran.” Lanjutku.

Indah memberiku dua koran dan aku memberinya selembar uang seratus ribuan. Mungkin karena terlalu gembira. Kertas yang mengepal di tangan kanannya sampai terjatuh ke pangkuanku. Dan detik-detik lampu merah pun berakhir. Embun melajukan kendaraannya.

“Ini apa?” Gumamku sambil membuka kertas kusut itu.

Kita dipertemukan
Lalu dipisahkan
Apa akan ada pertemuan kembali?
Setelah aku tahu kita benar-benar berpisah

Begitu isinya. Aku dan Embun saling menatap.

“Apa?” Tanya Embun. Aku menyodorkan kertas tersebut. Dia membacanya cepat, hingga aku menerimanya lagi.
“Nanti kita kembalikan.” Kata Embun. Dia sadar raut wajahku cemas dan khawatir. Aku hanya tidak tenang. Kertas ini pasti teramat penting bagi pemiliknya.

Siang yang mencekam. Di perempatan lampu merah baru saja terjadi sebuah kecelakaan motor. Embun memarkir mobilnya ke sebuah pertokoan. Lalu menggandeng tanganku untuk menyeberang jalan dan mencari keberadaan anak penjual koran tadi.

Ternyata, Indah ada di antara kerumunan orang yang mengerubungi si korban kecelakaan. Aku yang melihatnya lantas menarik tubuhnya menjauh dari peristiwa tersebut. Dan kami menepi di dekat halte busway.

“Ibu yang tadi pagi?” Tanyanya.
“Iya. Melihat kejadian begitu, kamu hanya menonton saja?”
“Tidak. Aku yang memanggil polisi untuk menolongnya.”
“Bagus. Ohya, ini punyamu?” Aku mengembalikan kertas kusut yang kemungkinan adalah miliknya. Ah, memang benar miliknya. Kalau bukan, siapa lagi? Apa kertas kusut itu turun dari langit?
“Wah, terima kasih. Aku kira kertas ini sudah hilang.” Senangnya.

Embun menyaksikan percakapan kami dengan senyum yang tertahan. Dia aneh. Selalu aneh.

“Kamu tidak sadar? Anak itu memanggilmu ibu. Sudah dua kali. Tadi pagi dan siang ini.” Ungkap Embun. Aku pun cemberut.
“Karenamu aku jadi terlihat lebih tua. Pekalah sedikit.” Protesku.
“Ha, apa iya? Banyak yang tidak menyangka bahwa aku sudah 29 tahun. Mereka mengira aku masih 20 tahunan.” Embun mengelak.
“Kalau 20 tahunan sepertimu, lalu aku ini berapa? 10 tahunan begitu?”

Kami ceroboh. Bodoh sekali. Anak itu pergi tapi kami tidak tahu. Benar-benar orang dewasa yang penuh lelucon. Ups, lihat di bawah. Gumpalan kertas lagi. Apa mungkin anak itu hobi menjatuhkan barang-barang kecil yang dia pegang?

Hari ini kecelakaan kedua yang ku lihat secara langsung
Setelah kecelakan yang mengambilmu dariku

Begitu isinya. Embun jalan lebih dulu, dia meninggalkanku. Ah, tega.

Kami mencari anak penjual koran itu. Dan menemukannya di sebuah halte depan universitas.

Ini makan siang ternikmat bagi Indah. Es soda, es krim, nasi dan dada ayam goreng. Juga beberapa snack ringan yang sempat ku beli tadi di minimarket sebelah.

“Kapan-kapan, boleh kakak main ke panti asuhan kamu?” Tanya Embun.

Ouh, manisnya. Haruskah memasang tampang sekeren itu saat bicara dengan seorang belia? Aku pun masih belia sebenarnya. Hanya saja, aku lebih banyak bergaul dengan orang-orang dewasa. Jadi, aku terlihat sedikit lebih tua.

“Boleh saja.” Singkat Indah. Dia sibuk dengan puing-puing makanannya.
“Biasanya, Indah kalau malam melakukan apa di panti asuhan?” Tanyaku kali ini.
“Merapikan rajutan-rajutan yang sudah jadi.”
“Oh.” Panjangku.
“Kalau boleh tahu, kenapa Indah hobi menjatuhkan kertas puisi yang Indah buat?” Embun bercanda. Aku menyenggol lengannya.
“Ehm, maksud kak Embun, Indah menulis puisi itu untuk siapa?” Sambungku.

Spontan, Indah terdiam. Melirik kami sekilas lalu pergi mencuci tangan. Aku dan Embun cuma bisa kebingungan.

Menjelang sore, kami mengantar Indah pulang. Panti asuhan tempat tinggalnya ternyata tidak semenyedihkan apa yang ku bayangkan. Disana, kami disambut beberapa anak yang lucu-lucu. Juga seorang wanita paruh baya yang menjadi bunda bagi mereka semua.

“Indah memang gemar membuat puisi. Setahu saya, itu dia lakukan semenjak kehilangan orang yang disayanginya.” Ujar Bundadari. Begitu dia disapa.

Kami diajak berkeliling panti. Dan pemberhentian terakhir adalah, kamar Indah dan tiga anak lainnya. Bundadari memperlihatkan dinding kamar yang dipenuhi dengan tulisan-tulisan tangan Indah. Tembok bercat warna putih itu menjadi sangat seni. Banyak coretan pulpen disana. Ada gambar-gambar dua orang yang bergandengan pula. Tampak seperti sepasang sahabat.

Nama lengkapnya, Indah Sifwa. Dia ditemukan Bundadari di depan gerbang panti asuhan. Tak lama kemudian, Bundadari kedatangan seorang ibu yang sakit-sakitan. Ibu itu menitipkan Dinda, anak satu-satunya pada Bundadari. Hingga mereka pun tumbuh dalam kebersamaan. Tidak bisa dipisahkan. Kemana-mana selalu berdua. Makan berdua, mandi berdua, main berdua, tidur berdua.

Suatu ketika, Indah menyaksikan kematian menjemput Dinda. Dinda kecelakaan, tertabrak mobil saat mereka sedang membeli makanan di warung persimpangan jalan.

Sejak itulah, Indah merasa sangat kehilangan. Kehilangan sosok yang menjadi sahabatnya, belahan jiwanya, teman seperjuangannya, teman sepermainannya, teman sehati sepikirannya. Indah menjadi penyendiri. Berteman dengan koran-koran. Berharap ia bisa sangat pintar, seperti apa yang selalu Dinda inginkan.

Menulis puisi tanpa judul adalah pelampiasan perasaannya terhadap kesepian. Indah tidak pernah memberi judul pada setiap puisinya, itu karena Indah merasa bahwa Tuhan-lah yang lebih tahu judul apa yang pantas untuk puisi-puisinya tersebut.

Mendengar segalanya tentang Indah, aku jadi berpikir keras. Seberapa kuat Indah tetap menjalani hidupnya tanpa seseorang yang cocok dengan dirinya? Seberapa tegar Indah melewati hari-harinya tanpa keceriaan bersama seorang sahabat? Seberapa mampu Indah mewujudkan mimpi-mimpi Dinda yang selamanya tidak akan pernah bisa ditemuinya kembali? Mungkin Indah terlalu hebat untuk menjadi seperti sekarang. Dia anak perempuan yang benar-benar tangguh.

“Belajar apa saja hari ini?” Tanya Embun mengetes.
“Aku… tidak boleh kalah dari anak usia sepuluh tahunan. Dia, Indah. Luar biasa. Menerima hal yang paling sulit dalam hidup ini yaitu kehilangan, memang seperti puisi tanpa judul. Tapi pada akhirnya, dia menjadi cermin untuk siapa saja. Dan akan ada indah-indah yang lain, yang sama kuatnya, yang sama tegarnya, yang sama mampunya.” Aku hampir mengeluarkan air mata.

Embun menatapku lekat-lekat.

“Jika ingin menangis, menangis saja. Tidak perlu gengsi begitu.” Ujarnya.
“Ish, kamu ini. Jangan menjatuhkanku, bisa tidak?” Aku lekas mengusap air mata yang menetes.
“Siapa yang menjatuhkanmu? Aku hanya memastikan, bahwa canggung itu sudah punah sejak lama.”
“Ya, nih, aku menangis, puas!” Aku menyerah.

Kami beranjak dari panti asuhan ke rumah. Embun mengantarku sampai depan gerbang. Lalu dia pulang. Indah memberiku sebuah pelajaran hari ini. Pelajaran hidup, pelajaran yang tidak didapat di sekolah. Tapi di lingkungan sekitar, tepatnya dimanapun kita berada.

Kamis, 22 Mei 2014

EMBUN FEAT JINGGA 5



(Twin Love)

Pulang kuliah aku memutuskan untuk ke rumah Embun. Taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah putih berhalaman luas dengan pohon mangga dan pohon rambutan memadatinya. Aku tekan bel, lalu Bik Ida membuka gerbangnya sedikit.

“Eh, mba Jingga. Masuk mba.” Ajak Bik Ida.
“Iya bik.” Jawabku sambil mengikutinya ke dalam.
“Mas Embun tadi berangkat pagi-pagi sekali. Katanya mau antar Icha ke sekolah. Mungkin sebentar lagi balik.” Ungkap Bik Ida.
“Okey, kalau gitu aku tunggu aja bik.” Aku duduk di sofa ruang tamu.
“Ya mba. Mau saya buatkan jus jambu biji? Kebetulan semalam mas Embun beli buahnya banyak.” Tawarnya. Aku asyik bersandar sambil memainkan handphone.
“Boleh. Tanpa gula ya bik.”
“Baik mba.” Bik Ida berlalu.

Aku menghubungi Embun, tapi tidak diangkat. Ingin kirim pesan tapi malas mengetik. Sabarlah. Embun pasti segera pulang.

Ha, ada suara musik dari kamar Embun di lantai dua. Agak bising dan terdengar rusuh. Sepertinya itu lagu rock. Karena penasaran, aku melangkahkan kaki menuju pusat perhatian. Pintunya tertutup. Apa Embun lupa mematikan dvdnya sebelum pergi? Dasar sembrono, batinku.

Mungkin tidak sopan jika aku masuk ke kamar anak laki-laki tanpa seizin pemiliknya. Ah, aku hanya ingin membantu. Niatku baik, ingin mematikan dvd itu. Volumenya terlalu keras untuk rumah besar berpenghuni dua orang begini (Embun dan Bik Ida).

Klik. Dvdnya mati. Sekarang tenang. Aku lihat kotak kaset yang ada di samping televisi. Semuanya lagu-lagu rock, dalam dan luar negeri.

Seseorang dengan kaos dan celana pendek datang membawa secangkir kopi panas. Dia cukup heran, mengapa lagunya berhenti begitu saja? Tanpa berpikir panjang, dia masuk dan mengunci pintu kamarnya. Kunci itu diletakkan di atas meja dekat tumpukan buku tebal bertaraf internasional.

Aku melongo. Bik Ida bilang Embun ke rumah Icha. Tapi kenapa Embun ada? Apa iya Embun pergi hanya dengan kaos dan celana pendek? Bukan tipenya sekali. Embun memang bersahaja tapi tidak sesederhana ini untuk bepergian jauh.

“Hey apa-apaan ini. Kamu siapa? Masuk ke kamar orang tanpa permisi. Kamu kira ini kamar nenek moyangmu?” Teriaknya.

Sulit dipercaya. Embun menghakimiku sedemikian gusar.

“Ha, kenapa begitu? Apa kamu lupa ingatan?” Balasku tak mau kalah.
“Maksudmu apa? Pergi-pergi. Aku tidak mengenalmu.” Usirnya tidak halus.
“Embun. Jangan begini. Apa salahku?” Aku menepis.

Mendengar itu sontak dia menyerah. Kedua tangannya tak lagi memaksaku untuk keluar dari kamar. Benar-benar tidak sopan. Memperlakukan kekasih seperti memperlakukan maling atau orang asing yang tidak disukai. Apa dia sudah gila? Melupakanku secepat kilat. Memangnya selama ini aku apa?

Bik Ida memegang segelas jus jambu biji, dia tidak menemukanku di tempat semula. Tak lama ia kebingungan, Embun muncul dengan raut wajah lelah yang coba disembunyikannya.

“Ada siapa bik?” Tanya Embun.
“Tadi mba Jingga tunggu disini mas. Tapi sekarang gak ada.”

Lelaki jelmaan Embun, begitu aku menyebutnya. Habis, aneh sekali. Dia kembali menyalakan dvd dengan volume tinggi. Spontan kedua tanganku menutup kedua telinga.

“Sebelum telingamu pecah, lebih baik kamu keluar.” Usulnya.
“Aish, menyebalkan.” Batinku. Aku mau keluar tapi pintunya dikunci.

Mendengar kegaduhan dari kamarnya, Embun langsung menelusur. Diikuti Bik Ida yang sempat menaruh jus jambu bijinya di atas meja.

“Jingga. Kamu di dalam? Buka pintunya?” Embun menggedor.
“Saya lupa bilang mas, ada mas Fajar baru datang dari… dari mana ya tadi, hhm ba-bel. Iya, dari Babel mas.” Kata Bik Ida. Embun hanya mendengus kesal.
“Jingga. Buka pintunya.” Teriak Embun.

Fajar, si jelmaan Embun itu. Mencium bau tidak menyenangkan. Dia pun mengambil kunci dan membuka pintunya. Benar saja. Dilihatnya dua orang yang membosankan tengah berdiri menanti pintu neraka terbuka. Embun dan Bik Ida. Ups tambah satu lagi, perempuan yang memanggilnya Embun.

Betapa terkejutnya aku? Embun ada dua. Ha, aku jadi pusing.

“Jingga. Kamu gak apa-apa?” Embun khawatir. Aku menggeleng. Masih tak menyangka. Aku tidak sedang di dalam dunia dongengkan?

Embun mengecilkan volume dvdnya. Lalu memasang tampang penuh emosi. Dan kembali menatap Fajar.

“Sekali saja tidak buat onar, tidak bisa ya?” Embun kesal.
“Bukan aku, tapi perempuan itu. Masuk kamar orang tanpa permisi. Asal mematikan dvd pula.” Jawab Fajar.
“Dia Jingga. Pacarku.” Embun menarik lenganku untuk lebih dekat dengan Fajar.
“Oh. Sudah move on rupanya. Kalau begitu, beri tahu dia mana Embun mana Fajar. Agar kejadian lampau tidak terulang lagi.” Tegas Fajar. Embun membalasnya dengan sebuah hantaman. Fajar terkapar di lantai. Sudut bibirnya sedikit berdarah.
“Aku tidak akan memaafkanmu.” Pelan Embun kemudian pergi. Bik Ida membuntuti.

Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Mereka membicarakan apa? Aku kebingungan sendiri.

“Aku yang tidak akan memaafkanmu.” Gumam Fajar.
“Ma-maaf. Ini salahku.” Sekuat hati aku memberanikan diri untuk merendah.
“Pergilah. Ikuti pacarmu yang keras kepala itu.” Fajar memegangi pipinya yang kesakitan.

Jalan tergesa-gesa. Aku mencari letak Embun berada.

“Mas Embun di lobi mba.” Sorak Bik Ida dari dapur utama.

Huft. Ini pertama kalinya aku lihat Embun terpuruk. Entah apa yang dipikirkannya. Dia seperti sangat penat.

Aku duduk di sampingnya tanpa sepatah kata pun.

“Dia Fajar. Saudara kembarku.” Begitu Embun berucap. Aku menelan ludah. Pantas saja paras mereka mirip. Tapi Fajar sedikit keras. Ah tidak, mereka sama-sama keras.
“Tadi itu, aku yang salah. Seharusnya kamu jangan memukul dia.”
“Dia membuatku kesal. Selalu membuatku kesal.”
“Kamu yang sabar. Bagaimanapun dia adalah saudaramu.”
“Kesabaranku terbatas untuknya.”

Ide bagus melintas di benakku. Syukurlah. Semoga ini berhasil.

“Mau ke Mall dekat rumahku? Ada akustik disana.”
“Biar aku yang nyetir.” Lanjutku.
“Yuk.” Embun bangkit meski masih lesu.

Dia menggandengku sampai ke mobil. Seseorang mengintip kami. Ya, siapa lagi kalau bukan Fajar. Lelaki itu cukup misterius. Setelah ini, tugasku adalah menyatukan Embun dan Fajar kembali.

Sesampainya di Mall, kami menonton pentas sebentar lalu makan siang, makan es krim dan pulang. Kami pulang ke rumah Embun. Lagi, ya. Aku membeli selusin donat. Setengahnya untuk Bik Ida, setengahnya untuk Fajar.

“Embun bilang Bik Ida suka sama donat. Nih.” Aku menyodorkannya setengah lusin donat. Masing-masing beda rasa.
“Terima kasih mba. Jadi merepotkan.” Terimanya.
“Sama-sama bik. Ohya, lihat kak Fajar?”
“Kayaknya barusan ke belakang deh mba. Mungkin nengokin kelinci-kelincinya.”
“Okey, terima kasih.”
“Iya mba.”

Aku melintas ke halaman belakang rumah. Disana memang terdapat sebuah kandang yang lumayan besar, yang menampung sepasang kelinci jantan dan betina, juga anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Ada pula kolam ikan mas di pojokan. Karena lokasinya terlalu ujung, aku jarang kesana.

Setelah menemukan orang yang ku cari, aku jadi ingat cerita Embun di restoran tadi.

“Waktu SMA, aku suka sama teman sekelasku. Tapi dia suka sama Fajar. Dan mereka pacaran. Padahal Fajar tahu, kalau aku suka sama cewek itu. Sampai akhirnya, di kampus, kami bertemu lagi. Satu fakultas pula. Aku tidak tahan melihat Fajar dengan orang yang ku suka. Hingga hubungan kami menjadi renggang. Sering bertengkar, tidak pernah cocok, selalu berbeda dan menjalani hidup masing-masing. Fajar seorang crew di sebuah production house. Dua minggu dia shooting di Bangka Belitung. Sekarang baru balik. Biasanya dia pulang ke rumah orang tua. Tapi entah kenapa, dia pulang kesini. Rumah kami yang kelam semenjak menyukai orang yang sama.” Jelas Embun.
“Sekarang bagaimana? Apa mereka masih bersama?” Tanyaku.
“Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.”
“Oh. Karena sudah ada aku ya?”
“Jangan terlalu percaya diri begitu. Aku jadi muak.”
“Ish, aku kan cuma bangga.”

“Tadi kak Embun beli donat banyak. Nih untuk kak Fajar.” Kataku.
“Tidak diracunikan?” Tanya Fajar sinis sambil meninggalkan kelinci-kelincinya berkeliaran.
“Tidak, tenang saja. Embun bilang kakak suka cokelat kacang, jadi aku pilih cokelat kacangnya lebih banyak.”
“Terima kasih.” Singkatnya dan berlalu. Tanpa lupa menerima pemberianku. Dia memakan satu donatnya sembari berjalan menuju kamar. Kamar Embun.

Aku mengekor.

“Boleh pinjam kaset westlife? Lusa aku kembalikan.” Siasatku.
“Ambillah.” Katanya.

Yeay. Sementara aku mengotak-atik keset-kasetnya, dia hanya asyik berteman dengan sekian donat.

“Kak Fajar kapan balik ke Bogor? Aku ikut ya? Kak Embun belum pernah mengajakku kesana. Padahal aku sangat ingin bertemu dengan orang tuanya.” Misi pertamaku.
“Sabtu ini paling. Boleh. Tapi aku tidak ikut campur jika pacarmu itu geram. Dia memang hobi memarahi orang lain.”
“Iyaaa. Kalau boleh tahu, orang tua kalian itu seperti apa? Aku takut mereka tidak menerimaku.”
“Kamu kan supel, dan mereka welcome sama siapa saja kok, termasuk orang di sekitar kita.”

Embun menguping dari samping pintu. Dia tersenyum kecil.

Sabtu telah datang. Perjalanan Jakarta – Bogor kurang lebih hanya dua jam. Tiba di perumahan asri yang penuh dengan nuansa islami. Aku merasa tenang saat menjejakkan kaki di pelataran rumah ini. Seperti ketenangan yang lama ku rindukan, kini kembali ku rasakan.

Embun memperkenalkanku pada orang tuanya. Orang tua yang sangat mendambakan wangi dan tangisan bayi dalam keluarganya. Artinya, cucu. Cucu dari dua lelaki bujang yang masih senang bergelut kesendirian dan kesepian. Tapi anak-anak mereka punya pujaan hati. Pujaan hati yang entah sampai kapan menunggu menjadi pendamping hidup mereka.

“Kamu cerdik ya. Banyak akal.” Puji Embun.
“Ah biasa saja.” Aku mengelak.

Kami duduk di teras samping yang menghadap perkebunan, bukit dan pegunungan. Ha, aku menghirup nafas kuat-kuat. Damai sekali. Udaranya sejuk. Suasananya tidak begitu ramai seperti di Jakarta.

“Mau kue mau kue. Ini buatan Ibu. Ayo dimakan calon menantu.” Tawar Fajar sambil meledek.

Kue lapis kesukaan Embun. Fajar duduk memisahkan kami. Dia memang resek, usil, jail, semuanya lengkap. Tapi aku lega, akhirnya mereka akur kembali. Semoga ini tidak hanya di depan orang tua mereka. Tapi ini sungguhan, yang sebenarnya ada dari dasar hati mereka.

Ayah dan Ibu melihat gerak-gerik kami. Mereka tersenyum bahagia. Kedua anaknya ternyata baik-baik saja. Rumor tak sedap itu ternyata palsu. Yang mereka sadari saat ini adalah, anak-anak mereka sudah dewasa. Kelak, mereka akan menemukan pelabuhan hati mereka masing-masing. Tanpa tekanan, paksaan atau keterburu-buruan.

“Jangan dihabiskan kak Fajar.” Sorakku.
“Dia itu rakus. Kamu harus terbiasa.” Kata Embun.
“Lalu siapa bilang kamu tidak rakus? Kita itu sama. Kamu lupa.” Protes Fajar. Embun mendengus kesal. Aku menahan tawa. Serasa ada di antara dua Embun. Ha, tidak tidak. Embunku hadir di pagi buta dan setelah hujan. Sedangkan Fajar, dia hanya hadir sebelum matahari terbit.

Embun dan Fajar, mereka kembar identik. Mereka pernah menyukai perempuan yang sama. Mereka juga pernah tidak merasakan kebersamaan yang utuh. Tapi kini, aku pastikan mereka akan bertahan sebagai dua bersaudara yang sejati. Yeah.