Kadang lelah, yu.
Mencari arti untuk memaknai hidup ini
Mencari jati diri untuk menemukan jalan hidup ini
Mencari sesuatu yang sebenarnya selalu menetap disini
Di hati ini
Tentang kemunafikan yang kamu bilang
Tentang kedustaan yang kamu maksud
Tentang cinta yang sesungguhnya, yang kekal dan abadi
Manusia mengejar manusia
Menusia melupakan surga dan neraka
Manusia yang mengingat dunia dan mengabaikan akhirat
Manusia yang memberi dan mengharap balasan
Manusia yang membicarakan manusia yang lain
Manusia yang dengki, yang dangkal
Aku muak, yu.
Adakalanya seseorang menangis menyesali
Namun setelahnya ia kembali seperti dulu
Tidak tulus
Sebuah penghinaan terhadap diri sendiri di hadapan-Nya
Sungguh semu, jemu, tidak dapat dipercaya
Perang dimana-mana, yu.
Yang menjelekkan orang lainlah
Yang membohongi orang lainlah
Yang menghasut orang lainlah
Yang mengabaikan orang lainlah
Segalanya bentuk sikap hitam yang tidak nyata
Tidak ada manfaatnya, malah menghancurkan
Bawa aku terbang, yu.
Dengan sayap yang pernah kamu ceritakan
Ke istana yang pernah kamu khayalkan
Ayo, yu.
Disana pasti damai dan sejahtera
Minggu, 13 Juli 2014
Selasa, 01 Juli 2014
EMBUN DAN JINGGA edisi Ramadhan (2)
EMBUN DAN JINGGA
BERBUKA PUASA
“Aku bersyukur,
sifat Embun seperti Ayah. Embun tidak pernah malu mengerjakan pekerjaan yang
seharusnya dilakukan oleh perempuan. Barusan dia membantuku menyapu dan
mengepel. Sekarang, dia mengantarku ke pasar. Bahkan katanya, dia mau memasak
untuk Ibu. Ha, betapa baiknya.” Batin Jingga.
Embun membeli
banyak bahan makanan untuk buka puasa nanti. Dan semuanya dia yang tenteng. Jingga
tidak diizinkan membawa satu kantong plastik pun. Ah, tumben. Biasanya dia
paling suka melihat Jingga kerepotan.
“Jangan melamun,
nanti kesandung.” Embun mengingatkan. Benar saja, alarmnya terkabul. Dan dia
tertawa kecil. Huh poor me, kesal Jingga.
Tak berapa lama,
Embun dan Jingga tiba di rumah. Ayah dan Ibu belum sampai. Masih diperjalanan pulang.
Sehabis sahur tadi, mereka pergi ke Depok. Sekadar menengok kakek-nenek dan
menjalani puasa pertama disana.
Tanpa
bertele-tele, Embun langsung masuk dapur dan mulai bersikap kejam. Dia ambil
sebuah pisau berukuran pas untuk mengupas, mengiris dan memotong beberapa bahan
makanan. Tampaknya lelaki yang satu ini terlihat lebih maskulin jika sedang memasak.
Sementara Jingga, masih kaku, bisu, seperti patung. Dia belum pernah
berekspresi sebodoh itu sebelumnya. Kecuali dalam kekosongan (bengong).
“Kamu tidak
sedang menonton acara memasak di televisikan?” Sindir Embun.
“Hu, aku kira
kamu bisa mengerjakannya sendiri.”
“Kalau begitu,
lebih baik kamu menata meja makan, lalu duduk manis disana. Aku tidak biasa
merepotkan seseorang.”
Menyindir lagi. Jingga
jadi cemberut. Baiklah, kali ini dia akan mengalah. Ah tidak, Jingga memang
sudah terlatih sejak awal untuk menurut pada Embun. Bahkan ketika di rumahnya
sendiri, Jingga merasa Embun punya wewenang.
“Ehm, boleh
tanya?” Kata Jingga sedikit ragu.
“Aku mau masak
tofu balado, sup bakso, ayam saus nanas sama acar. Nanti kamu bantu aku bikin
es campur ya?” Ungkap Embun.
“Wah, iya-iya.”
Jingga antusias.
Dua jam
kemudian, semuanya hampir siap. Embun menuangkan lauk-pauk ke piring dan
mangkuk. Lalu Jingga membawanya ke meja makan. Mereka rekan kerja yang serasi. Tidak
ada percekcokan, tidak ada kerecokan. Detik-detik menuju waktu berbuka, mereka
lewati dengan kebijaksanaan. Meskipun es campur yang mereka bikin, cukup kurang
memuaskan bagi Jingga. Karena pakai susu putih, Jingga tidak suka. Tetapi,
menghargai dan menghormati orang lain tidak sulit bukan? Maka, Jingga akan
menyantap apa yang telah ia dan Embun buat.
Alhamdulilah. Ayah
dan Ibu sampai juga di rumah. Mereka sempat bercerita tentang keadaan kakek dan
nenek di Depok. Lalu, adzan maghrib berkumandang. Mereka berbuka puasa dengan
penuh rasa syukur. Bagaimana tidak? Embun memasak untuk keluarga mereka. Dan Ibu
tak henti-hentinya memuji Embun di depan Ayah. Uh betapa bangganya lelaki ini,
batin Jingga.
EMBUN DAN JINGGA edisi Ramadhan (1)
EMBUN DAN JINGGA
TARAWIH BERSAMA
Malam minggu 1
Ramadhan 1435 H, umat Islam menyambut gembira kedatangan bulan puasa bulan suci
Ramadhan. Sejak siang, Jingga sudah sibuk mempersiapkan mukena mana yang akan
ia dan Ibu kenakan di shalat tarawih pertama nanti malam. Jingga juga mulai mencoba
baju-baju muslim dan belajar memakai hijab.
Beberapa menit
sebelum adzan maghrib. Jingga masih di depan cermin. Kali ini ia terlihat lebih
cantik, bahkan bisa dibilang indah.
“Begini lebih
tepatkan? Bukankah perempuan muslim memang diwajibkan berjilbab? Dan Embun
menyukai perempuan yang menutup aurat mahkotanya. Seperti Senja. Apa kata Embun
jika dia melihat penampilanku seberubah ini?” Jingga bertanya-tanya. Menatap
bola matanya lekat-lekat. Memohon kebijaksanaan dan kepercayaan diri.
Tiba-tiba Ibu
masuk kamar. Tanpa ketuk pintu. Jingga jadi salah tingkah.
“Wah, anak ibu
cantik sekali. Sudah pandai memakai hijab rupanya. Mau kemana sayang?” Ibu
hampir membuat Jingga ingin terbang. Terbang ke kamar mandi, ganti baju biasa
lagi. Habisnya, ditanya mau kemana. Apa sebegitu anehnya ya seorang Jingga
mendadak religius seperti ini?
Adzan maghrib
pun berkumandang. Jingga lega. Akhirnya ia dapat melihat kedua mata ibunya
berbinar-binar. Mereka shalat maghrib berjamaah. Setelah itu, seseorang datang
dengan sholehnya. Embun. Baju lengan panjang bersulam, jeans hitam, kopiah dan
sandal jepit membuatnya tampak lebih gagah. Ini dia calon menantuku, batin Ibu
Jingga.
“Assalamulaikum.”
Salam Embun sambil mencium tangan Ibu Jingga dan Jingga melakukan hal yang sama
terhadapnya.
“Waalaikumsalam.”
Jawab Ibu dan Jingga serentak.
“Ayah belum
pulang kerja bu?” Tanya Embun. Pandangannya menyelidik.
“Belum. Shalat
tarawih di masjid kantor katanya. Yuk, kita berangkat. Bertiga saja tidak apa-apa.
Ohya nak, kamu sudah makan? Atau mau minum dulu?”
“Sudah bu,
terima kasih.”
“Oh. Baiklah.
Ibu ke belakang sebentar. Kalian langsung ke mobil ya.”
Ditinggal Ibu
sejenak, Embun menyebalkan. Lihat, bagaimana dia menatap Jingga dari atas
sampai bawah? Buat risi saja.
“Hey, siapa
malaikat yang menyihirmu jadi begini?” Bisik Embun. Padahal dalam hati, ia
terus berdecak kagum. Rasanya Jingga ingin pakai helm agar Embun tidak tahu
wajahnya mulai memerah.
“Se-se-senja.”
Jawab Jingga putus-putus. Embun terperanjat.
Lagi, Ibu datang
mengejutkan. Memang sebuah tradisi.
“Lho, kalian
masih disini. Ayo pergi.” Ajak Ibu.
Di Masjid
Al-Azhar, mereka melaksanakan shalat tarawih. Ini pertama kalinya Jingga
melewati bulan puasa dengan seorang musisi, sang pemilik daun, Embun. Dan bisa
tarawih bersama, adalah kesenangan yang sulit diungkapkan. Mereka berdoa dan
bersujud di dalam masjid yang sama. Ada Ibu juga, seseorang yang paling
mengharapkan hubungan mereka bisa segera sampai pada pernikahan. Jodoh, maut
dan rezeki, menjadi rahasia Allah SWT.
Tepat setengah
sembilan malam, mereka selesai menunaikan shalat tarawih pertama di bulan
Ramadhan 2014 ini. Dan berlanjut ke sebuah restoran padang. Makan malam,
sekalian membungkus beberapa menu untuk sahur nanti.
“Jadi, adakah
yang mau kamu ceritakan? Misalnya, mengenai perubahan dari seorang puteri yang
manja ke seorang puteri yang elegan seperti ini?” Embun menginterogasi.
“Aku hanya ingin
menjadi lebih baik.” Singkat Jingga.
“Karena ini
bulan puasa?”
“Tidak.
Seseorang telah menyadarkanku sejak lama. Tetapi, baru sekarang aku
melakukannya. Aku tidak terlambatkan?” Ungkap Jingga.
“Ah, tidak sama
sekali. Kamu sudah memilih yang seharusnya dipilih. Itu jalan yang benar.”
Tak lama, Ibu
datang ke meja mereka, dengan sedemikian banyaknya makanan yang ibu bawa
pulang.
“Tadi ibu sempat
bicara dengan mba kasirnya. Katanya, masjid Al-Azhar akan mengadakan I’tikaf
masjid selama tiga hari dan terbuka untuk umum. Apa kalian bisa hadir?” Tanya
Ibu.
Embun dan Jingga
saling melirik. Mereka sama-sama berpikir, sebelum menjawab.
Bulan Ramadhan
memang bulan yang paling berkah. Setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya.
Bahkan, banyak orang yang berlomba-lomba dalam menjalankan ibadah. Seperti
mengkhatam Al-Qur’an, berbagi makanan berbuka dan sahur, sedekah, melaksanakan
shalat sunnah, I’tikaf masjid dan lain-lain.
Tinggal
bagaimana kita memaknainya, menghargainya, menghormatinya, sebagai bulan yang
suci, bulan yang penuh kebaikan dan bulan yang menuntun kita sampai pada
kemenangan. Yaitu idul fitri.
Semoga kita
semua selalu diberi kekuatan dan kesabaran.
Selamat
menunaikan ibadah puasa, Ramadhan 1435 H.
Mohon maaf lahir
dan batin.
Jumat, 13 Juni 2014
EMBUN FEAT JINGGA 8
(Pertengkaran
di kala Senja)
Selamat hari Jumat. Pagi-pagi
buta bumi kota sudah diguyur hujan deras. Menjelang siang matahari baru
bersinar kuat. Jujur, mereka sama-sama hebat. Aku suka momen hujan, suka suara
rintik-rintiknya, suka aroma airnya, suka menanti kepergiannya. Karena setelah
hujan pasti ada pelangi, ada embun, ada senyum lebar nan cantik yang selalu
siap untuk menyambutnya. Aku juga suka matahari atau mentari atau benda angkasa
yang mendatangkan terang dan panas itu. Sebelum matahari hadir, ada fajar.
Setelah matahari terbenam, ada senja.
Hhh, seringkali aku bilang, aku
sangat menghormati dan menghargai periode alam. Aku tidak mungkin melupakan itu
sedikitpun. Selain aku hidup di kolong langit ini, aku juga punya embun, fajar,
senja, pelangi dan matahari di dalam hidupku. Ya, aku adalah Jingga. Jingga
salah satu warna dari pelangi bukan? Embun adalah kekasihku, seorang musisi
yang gila kehormatan itu. Sedangkan Fajar, dia adalah saudara kembar Embun. Dan
Senja, adalah kekasihnya. Lalu matahari, mereka adalah orang tua, keluargaku,
yang memberi energi, yang memiliki peran sangat penting bagiku.
Siapapun pasti setuju, bahwa
orang tua atau keluarga adalah prioritas dalam hidup. Namun, bagaimana jika aku
harus memilih, di antara dua pilihan, antara kekasih dengan orang tua, antara
Embun dengan Mama dan Papa? Membingungkan bukan.
“Kamu masih sama si penyanyi
café itu?” Tanya Papa sedikit sinis. Sarapan kali ini cukup hambar. Hampa
rasanya, karena tiga kepala yang ada hanya sibuk dengan egois semata.
“Namanya Embun, Pa.” Entah ini
yang ke berapa, aku terus mengingatkan Papa, tak pernah bosan.
“Sudah sejauh mana hubungan
kalian?” Papa mulai menginvestigasiku. Aku cuma bisa terdiam.
“Maksud Papa, apakah ada rencana
kalian untuk menikah?” Sambung Mama. Ah, terus-terang sekali Mama ini. Batinku.
“Belum, Ma, Pa. Lagipula, Jingga
masih 21 tahun. Belum lulus kuliah juga.” Jawabku ragu.
“Jangan beralasan. Kamu itu
berpacaran dengan lelaki berusia 31 tahun. Ada yang aneh, jika dia belum
membicarakan tentang pernikahan padamu. Tidak beres dia itu.” Papa berfirasat,
lalu pergi meninggalkan sarapannya yang masih tersisa.
Aku menunduk. Tak nafsu makan.
Rasanya kepalaku berat, sangat berat. Kata-kata Papa barusan, seperti memaksaku
untuk berpikir. Berpikir bahwa memang ada sesuatu yang Embun sembunyikan. Yang
tidak aku ketahui, atau bahkan, tidak ingin aku mengetahuinya. Ha, memusingkan.
“Kayaknya Papa berangkat duluan.
Apa Embun akan menjemputmu?” Tanya Mama. Membuyarkan lamunanku.
“Aku bisa berangkat sendiri kok,
Ma.”
“Assalamualaikum.” Aku mencium
tangan Mama dan segera pergi ke kantor.
“Waalaikumsalam.”
7 jam kemudian.
Embun sudah menungguku sejak
beberapa menit yang lalu. Dia terlihat begitu sabar, begitu tenang, begitu
setia. Tetapi aku tidak pernah mampu membaca, bahwa apakah memang benar dia
sedang berdusta? Atau munafik atau menipuku. Karena pagi tadi bukan untuk
pertama kalinya aku seperti berada di ruang konferensi hitam. Mama dan Papa
selalu menanyakan perkembangan hubunganku dengan Embun. Aku tahu kenapa mereka
sebegitu pedulinya.
Ya, apalagi kalau bukan
perbedaan usia antara aku dan Embun.
“Maaf agak lama.” Kataku.
“Bukan masalah.”
“Yuk, buruan. Kita jemput Icha,
lalu Indah, lalu kita ke tempat biasa.” Lanjutnya.
Mobil paling bertenaga itu,
mobil yang membuat pengendaranya bagaikan pembalap profesional. Aku tidak
ingat, kapan terakhir kalinya aku menikmati penuh keadaan nyaman dan aman saat
menumpangi mobil berkelas ini. Sekarang aku punya gelisah, aku mulai kepikiran,
memikirkan sebuah alasan yang mungkin dianggap tabu atau dibiarkan terbongkar
pada waktu yang tidak ditentukan. Hu, ini sungguh menyita asaku.
Tak berapa lama, kami tiba di
pinggir lapangan yang luas. Ada jalan tol yang masih proses pembangunan, belum
jadi. Ada anak-anak yang bermain sepak bola juga. Icha dan Indah sibuk dengan
kegembiraan mereka masing-masing. Aku dan Embun duduk menghadap jalanan panjang
itu. Di sekitar kami banyak ditumbuhi alang-alang. Jika kami perhatikan, di
atas sana, banyak burung yang berterbangan. Desir angin yang membawa debu ikut
berpetualang pun turut menggelitik tubuh kami. Aku suka, sangat suka. Ditambah,
sebentar lagi matahari terbenam. Momen setelahnya yang selalu aku puja. Senja.
“Tadi pagi Papa tanya kabar
kamu. Terus aku jawab, kamu baik-baik saja.” Aku memulai pembicaraan. Cukup klise,
monoton atau apalah namanya, intinya kurang menarik. Tetapi ini lebih bagus,
daripada kami terus dalam diam.
“Nanti aku mampir. Lama juga aku
tidak bertemu orang tuamu.” Ucap Embun.
“Senja…” Aku belum selesai
bicara.
“Senjanya kok gelap ya? Gak
merah kayak waktu kita di Anyer.” Embun memotong.
Kami memandang langit senja
lekat-lekat. Embun berusaha mengalihkan, dia tidak tenang.
“Maksudku, kak Senja. Aku tahu
dia perempuan yang pernah kamu ceritakan waktu kita ke Mall.” Ungkapku. Embun membisu,
membatu, mematung. Dia bingung harus menyikapi kalimatku dengan bagaimana. Setelah
aku rasa aku sudah cukup membuatnya seperti terpenjara atau tercekik atau mati
rasa atau apapun itu sebutannya. Aku melanjutkan perkataanku lagi.
“Sepertinya, dia masih
mengharapkanmu.”
“Jangan salah sangka. Dia tidak
pernah menyayangiku seperti dia menyayangi Fajar saat ini.” Embun menyangkal.
“Jadi, selama ini kamu masih
memperhatikannya?” Selidikku.
“Ti-tidaklah. Ah, apa harus
membahas tentangnya? Jika Fajar tahu, dia akan tersinggung. Bisamu hanya
mengungkit masa lalu orang dan membuat yang lain sakit hati. Sama sekali tidak
menyenangkan.” Gerutu Embun.
Ha, siapa yang dia kecam? Akukah?
“Bukan. Aku cuma ingin tahu,
mengapa di usia kepala tiga begini kamu belum juga menikah? Maksudku, melamarku
begitu.” Wah, beraninya diriku. Sedikit tidak enak hati. Masalahnya, ini
terus-terang yang memalukan. Mempermalukan Embun dan mempermalukanku juga.
“Menurutmu, aku sudah terlalu
tua?” Tanya Embun menekankan pandangannya kepadaku.
“I-iya. Iya untuk seorang lelaki
yang berusia 31 tahun, belum punya anak, bahkan lebih parah jika dia belum
memiliki kekasih. Hehehe. Setidaknya, lelaki itu normal. Masih punya rasa cinta
dan kemauan untuk menikah.”
“Siapa yang kamu bicarakan?”
“Bu-bukan kamu pastinya. Ah,
sudahlah. Lupakan.” Aku muak., batinku.
“Menikah itu tidak semudah
menulis puisi atau cerpen…”
“Kata siapa menulis puisi atau
cerpen itu mudah?” Kali ini aku yang memotong.
“Dengarkan dulu.” Tegasnya.
Panjang lebar Embun menjelaskan
padaku tentang satu hal yang selama ini ingin aku ketahui darinya. Akhirnya,
aku dapat mengenal orang yang ku percayai untuk menjaga hatiku dengan baik.
Siapapun pasti ingin menikah. Selain
menikah adalah ibadah. Bagi seorang perempuan, pernikahan adalah hal yang
paling membahagiakan. Dan bagi seorang lelaki, pernikahan adalah sebuah
tanggungjawab yang menghasilkan tanggungjawab-tanggungjawab berikutnya. Maka untuk
menikahi seseorang, diperlukan kesiapan yang matang, dari materi, spiritual,
hingga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang nanti.
Embun sudah jujur, sudah
mengungkapkan semua yang berkenaan dengan alasannya belum menikah di usia yang
beranjak 32 tahun itu. Tetapi aku merasa kurang puas, aku merasa masih ada satu
kejanggalan lagi yang Embun tutup-tutupi dariku. Entah apa, yang paling
penting, aku harus bisa mempertahankan keyakinan Embun yang telah memilihku
sebagai calon pendamping hidupnya di dunia ini. Semoga juga di akhirat kelak.
Kamis, 12 Juni 2014
EMBUN FEAT JINGGA 7
(Senja Bersahaja)
“Kenapa kesini? Kamu bilang kita
akan nonton film baru, kamu membohongiku?” Protes Embun.
Setelah berada di depan toko
buku di sebuah Mall, di bilangan Jakarta Selatan, Embun mendengus kesal. Aku
tahu akhir-akhir ini dia sedang malas membaca buku, kecuali majalah, ya majalah
musik, tentang musik, selalu musik.
“Sebentar saja. Ada buku yang
ingin ku beli.” Aku menarik kedua tangannya, memaksanya untuk mau menurutiku.
Berhasil. Aku menelusuri rak-rak
buku best seller, buku laris dan buku baru. Terutama genre novel roman. Raut
muka Embun kusam, tidak seantusias tadi ketika tujuan pertamaku adalah
mengajaknya nonton film di bioskop. Baginya, aku sungguh menyebalkan.
Dia memandang murka pada setiap
buku yang tertangkap kedua matanya. Sebenarnya, Embun suka membaca, genre
apapun itu. Tetapi, entah mengapa, dia menjadi sangat segan untuk melahap
ratusan lembar halaman yang berisi tulisan semua, tanpa ada gambar atau warna,
kecuali cover dan backcovernya.
“Nah, ini yang ku cari.
Bagaimana? Baguskan?” Tanyaku, sambil menunjukkan padanya sebuah novel roman
berjudul ‘Cinta Harus Memiliki’.
Embun hanya melirik sekilas lalu
menggelengkan kepala. Aku mengerti apa yang ada di dalam pikirannya, novel itu
terlalu mengharukan. Ya, cukup salut dengan ketangguhan dari judul tersebut.
Bahkan bisa dibayangkan, bisa ditebak, bagaimana si penulis sangat optimis
menyampaikan pesan yang ingin disebarkannya. Tetapi sedikit cengeng. Dan Embun
kurang menyukai itu. Ha, seorang musisi seperti dirinya seharusnya bisa
mengapresiasi buku bergenre apapun, tidak memihak pada apa yang menjadi
kesukaannya saja. Atau dia sedang trauma? Tidak nafsu membaca buku fiksi?
Lihat, sebuah buku yang dia
pegang, buku tentang perjalanan hidup seorang maestro biola Indonesia yang
telah meninggal dunia. Aku sadar, aku patut bangga memiliki kekasih seperti
Embun. Selera bacanya tinggi.
“Hey, sudah lama tidak bertemu.
Masih ingat dengankukan?” Seorang perempuan tiba-tiba menghampiri Embun.
Membuatnya tercengang.
“Ternyata bertemu di tempat
seperti ini. Dan buku bacaanmu tidak pernah berubah.” Lanjutnya.
Huh, siapa perempuan itu? Aku
bertanya-tanya dalam hati. Penampilannya jauh lebih baik dariku. Ibarat buku
tulis anak sekolah, ada yang disampul, ada yang tidak. Dia berjilbab, aku
tidak. Perempuan muslim macam apa aku ini? Batinku.
Embun melirik ke sekitar
perempuan yang ada di hadapannya. Mencari seseorang.
“Aku sendirian. Fajar tidak
ikut.” Celotehnya.
Kejutan! Aku muncul mendadak.
Bukan maksud ingin membuat jantung Embun dan perempuan itu berdetak hebat.
Tetapi aku ingin mencairkan suasana. Aku merasa Embun cukup tegang dan ada
sesuatu yang mereka sembunyikan. Mungkin rindu, mungkin juga ketidaksangkaan,
atau canggung. Ah, tentu saja. Sesuatu itu yang membuat mereka menjadi
canggung, sesuatu yang tidak bisa aku tebak, sesuatu yang hanya mereka yang
tahu dan merasakannya.
“Hey, i-ni pasti yang namanya
Jingga. Hallo, salam kenal, aku Senja.” Dia mengulurkan tangan.
“Iya, salam kenal.” Kami
bersalaman.
Senyumnya manis sekali. Aku
sampai iri. Mengapa ada senyum semanis itu? Senyum yang mampu meluluhkan hati
lawan bicaranya. Bahkan aku tidak punya lesung pipit seperti dia. Ha, serius,
aku sudah kalah banyak.
“Aku pacarnya Fajar. Fajar
sering cerita tentang kamu. Tentang seseorang yang Embun sanjung-sanjungkan.
Seseorang yang bisa menakhlukkannya. Membuatnya lebih bersemangat, lebih
menikmati hidup dan yang pasti, lebih menghargai dirinya sendiri.” Ungkap Senja.
Mungkin Senja seorang pendengar
yang baik. Aku tidak boleh berprasangka curiga dahulu. Apa yang Senja ungkapkan
adalah hal-hal yang ia ketahui tentang Embun dari Fajar. Dari kekasihnya. Tak
lain, tak bukan, Embun merupakan calon kakak iparnya. Tentu Senja mulai
mengenali kehidupan keluarga Fajar, termasuk Embun.
Ah, tetapi kenapa tatapan mereka
sama? Embun tidak pernah menatapku seperti itu, seperti ia menatap Senja kini.
“Ish, kak Fajar curang. Dia
cerita ke kakak tentang aku, tetapi dia tidak pernah cerita ke aku tentang
kakak. Pandai sekali dia menyembunyikan status percintaannya. Mempunyai pacar
secantik kakak pasti membanggakan ya? Benarkan?” Kataku. Memandang Senja dan
Embun bergantian. Mereka sedikit salah tingkah.
“Jangan banyak bicara. Sebaiknya
kita bayar buku yang mau kamu beli sekarang.” Embun mengalihkan. Dia
merangkulku untuk segera pergi ke kasir.
“Apa sih, aku belum selesai
bicara dengan kak Senja.” Aku cukup kesal. Embun selalu merusak suasana. Dia
tidak pernah membuat lawan bicaranya merasa nyaman lebih lama berada di
dekatnya. Huft. Selalu menjengkelkan.
“Tidak apa-apa, lain waktu kita
bisa bicara banyak.” Sambung Senja.
“Baiklah, mohon maaf atas
perlakuan bocah ini ya kak.” Mohonku.
“Siapa yang kamu sebut bocah?”
Tanya Embun geram.
“Ah, memangnya siapa yang ku
sebut bocah.” Aku mengelak.
Senja tersenyum kecil. Entah
ikut senang, menganggap ini lelucon atau apalah itu yang ada di benaknya,
intinya dia merasa lega. Hatinya sedikit lebih lapang. Seperti beban yang
selama ini menumpuk di pundaknya, sedikit demi sedikit telah hilang.
“Sabtu ini kalian ikut Fajar ke
Ambon kan?” Tanya Senja memastikan, sebelum kami benar-benar meninggalkannya.
Aku menatap Embun licik. Hehe.
Rupanya ada tanda-tanda bahwa Senja juga ikut bersama Fajar. Pastinyalah, dia
kan pacar.
“Iya kak.” Jawabku teguh.
“Okey, sampai jumpa nanti.”
Harap Senja.
Dia berlalu begitu saja. Yang
penting aku sudah tahu, aku akan bertemu dengannya lagi. 7 hari di Ambon, Embun
tidak boleh mengacaukan pendekatanku dengan Senja. Sekali saja dia tidak jahat
tehadapku, tidak bisa ya? Ha, kekasih macam apa si dia itu? Sebentar
menyenangkan, sebentar menyebalkan.
“Hhm, kak Fajar beruntung sekali
mempunyai pacar seperti kak Senja. Sholeha, bersahaja, punya lesung pipit,
senyumnya manis, cantik. Nyaris sempurna deh pokoknya.” Pujiku.
“Jangan berlebihan. Tidak ada
yang nyaris sempurna di dunia ini. Bungkusan yang indah belum tentu isinya juga
indah.” Sindir Embun.
“Maksudmu apa?”
“Tidak ada maksud apa-apa.”
Kami mengantri di kasir. Selama
itu pula kami berdebat dan terus saja terlihat tidak akur.
Di perjalanan menuju parkiran,
aku memikirkan sesuatu. Aku penasaran dengan Senja. Setelah aku satukan semua
pertanda, semua pernyataan dari Senja dengan masa lalu Embun dan Fajar yang
pernah menyukai satu perempuan yang sama ketika SMA. Aku menemukan
kesimpulannya. Ya, Senja bukanlah orang baru dalam hidup Embun. Senja kekasih
Fajar, Senja itu adalah cinta pertama Embun. Cinta yang Embun relakan untuk
saudara kembarnya. Ha, aku mendadak lemas, tidak bertenaga. Rasanya seperti
dipukul benda keras dan aku menjadi sangat berat untuk melangkah.
“Kenapa?” Tanya Embun. Dia
khawatir melihat wajahku yang memucat. Aku urungkan niat untuk mengatakan apa
yang ingin aku ungkapkan. Sebenarnya aku sedih, aku kecewa, aku tidak enak
hati. Aku seperti orang bodoh, aku baru menyadari siapa Senja sekarang. Sungguh
telat. Tetapi, mungkin ini cara Tuhan demi meminimalisir pertengkaran aku dan
Embun. Tuhan memang maha penyayang.
Langganan:
Postingan (Atom)