Sabtu, 20 September 2014

PACAR PERTAMA



Satu-satunya teman laki-laki yang aku kenalkan kepada Mama sebagai pacar adalah Dia
Pacar pertama

Itu pun sudah berlalu beberapa tahun silam
Dan Mama masih selalu menanyakan kabarnya
Membuatku muak, bosan dan tidak bersemangat

Aku ingin Mama melupakannya seperti aku sekarang
Namun nyatanya, meski sudah berpisah dan bukan sepasang kekasih lagi, Mama tetap menyukainya

Hal itu yang kadang bikin aku jengah, tidak suka

Dalam waktu yang lama, yang entah kapan berakhir, aku masih betah sendiri
Bukan karena aku tidak punya teman dekat
Hanya saja aku sedang tidak ingin berpacaran
Banyak ruginya

Bahkan aku pernah dianggap Lesbian
Juga dianggap tidak punya perasaan
Padahal memang belum ada yang mampu membuatku jatuh cinta

Mungkin suatu saat nanti
Aku akan sangat mencintai seseorang
Yang ku harap, bisa membuatku lebih dekat dengan Tuhan dan Keluarga

Namun untuk saat ini, aku benar-benar belum menemukan orang tersebut

Aku kira, dia tengah belajar untuk menjadi seorang suami yang baik, untuk menjadi seorang ayah yang benar, dan untuk menjadi seorang pemimpin yang berkebijaksanaan

Semoga Tuhan menjaganya untuk kelak menjadi milikku
Melangkah bersama menuju keridaan-Mu.

Aamiin

Sabtu, 13 September 2014

RAHASIA



Siapapun pasti punya privasi.
Tak ada yang tahu jika sahabat kita sendiri adalah seorang detektif swasta misalnya
Atau, sepupu kita adalah kekasih gelap dari vokalis band yang sedang naik daun tahun ini
Atau juga, adik kita sangat mengidolakan artis yang sekarang tengah kita antipati

Jangan pernah menghakimi seseorang jika kamu hanya mampu melihatnya dari penampilan saja
Mungkin kamu perlu pakai kacamata atau kaca pembesar sekalian
Mungkin juga kamu perlu ikut kerohanian supaya empati dan simpatimu tumbuh
Atau, kamu mau tunggu Tuhan mendemikmu pada waktunya?

Aku rasa kamu akan menyesal suatu saat nanti

Ketika menghina atau mencela orang lain
Kamu begitu bahagia
Sepertinya kamu adalah manusia yang paling sempurna di dunia ini
Juga seperti seekor binatang yang mengolok-olokkan ekornya
Padahal di balik ekor itu ada sebuah luka
Luka yang sakitnya coba kamu lupakan
Dengan cara mencibir ekor binatang lainnya
Wah, kasihan sekali

Apa kamu sudah merasa hebat?
Apa kamu sudah merasa bermanfaat?
Apa kamu sudah merasa cukup tentang kemunafikanmu selama ini?
Belum ya?
Jika belum, silakan saja lakukan apapun sesukamu
Tidak ada yang melarang
Sampai nanti Tuhan akan membalas segala perbuatan manusia-Nya dengan setimpal


Sabtu, 30 Agustus 2014

YU (SATU PER SATU)


Aku tidak ingat apa cita-citaku waktu kecil
Aku juga tidak memikirkannya saat itu
Yang aku ingat aku hanya sangat senang bermain
Punya banyak teman
Tertawa karena kotor-kotoran
Bertengkar karena mainan rusak
Dan menangis ketika luka karena terjatuh

Di masa belia
Aku baru merasakan artinya prestasi
Apalagi ketika mendapat peringkat lima besar di kelas
Aku benar-benar menjadi anak sekolahan
Belajar dengan sungguh
Selalu di rumah, jarang keluar
Bersaing secara sehat
Sebagaimana mestinya seorang pelajar

Dan ketika menginjak usia enam belas tahun
Aku mulai mengenal dunia luar
Dunia yang tidak pernah aku bayangkan aku akan menyentuhnya
Ya, dunia kepenulisan

Kamu tahu, yu
Seseorang telah membangkitkanku kembali
Atau mungkin aku tidak pernah putus asa
Namun orang tersebut menyambutku dengan leluasa

Hingga nyaris 3 tahun kemudian
Aku dipertemukan lagi dengan seseorang yang membangkitkanku
Seseorang yang sekarang aku panggil yu

Ya, kamu
Mungkin kamu lupa kapan pertama kali kita bertatap muka
Atau mungkin kamu tidak ingat pernah bertemu dengan orang sepertiku
Bagaimana kamu menyebutnya, Jingga? Manis sekali
Atau bahkan mungkin kamu sudah melupakanku
Sedemik apakah asal kamu tahu rasanya dibiarkan?
Malah aku sulit menjelaskannya di sini

Dan satu per satu yang aku impikan mulai tercapai
Pertama, aku ingin menulis sebuah novel
Justru Tuhan menganugerahkan aku tiga judul novel
Dengan banyak judul lain yang belum juga aku selesaikan
Kedua, aku ingin lebih dekat dengan seorang motivator
Lalu Tuhan menghadiahkan aku kesempatan menjadi orang yang bijaksana
Dididik langsung oleh mentor yang merupakan motivator nomor satu di Indonesia
Ketiga, aku ingin bekerja sesuai dengan apa yang aku suka
Lagi, Tuhan sangat baik kepadaku
Setiap hari aku dapat membaca banyak buku
Keempat kelima keenam dan seterusnya
Aku harap Tuhan akan selalu menyayangiku
Berada di sampingku
Seperti seorang musisi dengan musiknya
Begitu juga seorang penulis dengan buku-bukunya

Yu,
Sejujurnya aku malu mengatakan ini
Tetapi ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan
Supaya kamu mengerti

“Embun mencurahkan pada daun bukan?
Dan Jingga meluahkan pada air terjun
Lalu apakah ada di antara keduanya sebuah ketidakmungkinan untuk bersama?”

Sementara,
Embun ada di pagi buta, sebelum atau setelah fajar misalnya
Embun juga ada sehabis hujan
Begitupun dengan Jingga
Jingga ada pada warna pelangi
Pelangi ada sehabis hujan
Pelangi ada di dekat air terjun
Dan di sana juga ada Embun

Mungkin kamu tidak punya waktu untuk memikirkan ini sedetikpun
Tidak apa-apa
Aku tetap mengingat pernyataanmu
Bahwa
Embun dan Jingga hanya ada dalam sebuah novel

Rabu, 20 Agustus 2014

YU (BUAT APA?)


Aku ingin melihat seorang musisi yang suka makan di warung pinggir jalan
Aku ingin melihat seorang musisi yang ikut mengamen dengan anak-anak jalanan
Aku ingin melihat seorang musisi yang mengantar anaknya ke sekolah
Aku ingin melihat seorang musisi yang bercengkerama dengan isterinya di teras rumah mereka
Aku ingin melihat seorang musisi yang tetap menjadi dirinya sendiri, yu
Meski ia sudah dikenal banyak orang
Meski ia sudah pernah bersendagurau dengan presiden sekalipun

Aku menulis ini juga tidak tahu buat apa
Aku hanya telah sangat menyukai seorang musisi
Bahkan ketika suaranya dinilai tidak terlalu merdu
Ketika cara berpikirnya berbeda dari pemikiran orang seusianya
Ketika apa yang dia lakukan menjadi biasa saja bagi beberapa orang
Ketika dia menentang seseorang yang aku dukung
Ketika dia membuat sebuah pernyataan yang tidak pernah aku anggap benar
Aku tetap menyukainya
Seperti menyukai embun

YU (ANDAI KAMU TAHU)


Banyak yang bilang, cinta itu pengorbanan
Basi.
Setiap langkah juga pengorbanan
Ada yang harus dipertaruhkan
Jadi, cinta itu kayak gimana sih, yu?

Tetap tinggal di rumah ketika tidak diizinkan keluar sama orang tua
Itu cinta, yu?
Berhenti kerja karena permintaan orang tua
Itu cinta, yu?
Mau dijodohkan dengan pilihan orang tua
Itu cinta, yu?
Atau,
Nekat merantau demi kesuksesan walau tanpa restu orang tua
Itukah cinta, yu?

Kadang aku berpikir, bahkan seringkali sih
Setiap ada waktu untuk melamun, aku pasti merenungkan sesuatu
Evaluasi diri
Tentang resolusi apa saja yang sudah/belum dicapai
Tentang ideologi yang suka berubah-ubah
Tentang pencarian yang tidak pernah hilang
Tentang apa yang harus aku lakukan mengenai sebuah perbedaan

Dan,
Banyak juga yang bilang, cinta tak harus memiliki
Klise.

Seorang anak yang terpisah dengan orang tuanya sejak kecil
Ketika besar mereka bertemu
Apakah mereka tidak akan melakukan sesuatu?
Diam, pasrah, merelakan begitu saja
Itu cinta, yu?

Seorang anak yang kehilangan penanya di sekolah
Dia tidak mencari
Dia biarkan, lupakan, berpikir bahwa dia bisa membeli pena yang baru nanti
Tanpa mengerti tentang kerja keras orang tuanya yang mencari nafkah
Yang memberinya uang untuk dapat mempunyai sebuah pena
Itu cinta, yu?

Atau,
Orang tua yang membela mati-matian anaknya yang sudah jelas bersalah
Itukah cinta, yu?

Andai kamu tahu
Sesuatu telah membuatku bingung
Cinta yang bagaimana yang aku punya?
Cinta yang seperti apa yang pernah aku beri ke orang tua?
Dan cinta yang sekarang ada, yang mungkin selalu ada, yang sama
Yang mungkin semakin menggebu
Apakah bisa menyebutku sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tua?

Andai kamu tahu, yu

Minggu, 13 Juli 2014

Yu (Begitu aku memanggilnya)

Kadang lelah, yu.
Mencari arti untuk memaknai hidup ini
Mencari jati diri untuk menemukan jalan hidup ini
Mencari sesuatu yang sebenarnya selalu menetap disini
Di hati ini

Tentang kemunafikan yang kamu bilang
Tentang kedustaan yang kamu maksud
Tentang cinta yang sesungguhnya, yang kekal dan abadi

Manusia mengejar manusia
Menusia melupakan surga dan neraka
Manusia yang mengingat dunia dan mengabaikan akhirat
Manusia yang memberi dan mengharap balasan
Manusia yang membicarakan manusia yang lain
Manusia yang dengki, yang dangkal
Aku muak, yu.

Adakalanya seseorang menangis menyesali
Namun setelahnya ia kembali seperti dulu
Tidak tulus
Sebuah penghinaan terhadap diri sendiri di hadapan-Nya
Sungguh semu, jemu, tidak dapat dipercaya

Perang dimana-mana, yu.
Yang menjelekkan orang lainlah
Yang membohongi orang lainlah
Yang menghasut orang lainlah
Yang mengabaikan orang lainlah
Segalanya bentuk sikap hitam yang tidak nyata
Tidak ada manfaatnya, malah menghancurkan

Bawa aku terbang, yu.
Dengan sayap yang pernah kamu ceritakan
Ke istana yang pernah kamu khayalkan
Ayo, yu.
Disana pasti damai dan sejahtera

Selasa, 01 Juli 2014

EMBUN DAN JINGGA edisi Ramadhan (2)



EMBUN DAN JINGGA BERBUKA PUASA

“Aku bersyukur, sifat Embun seperti Ayah. Embun tidak pernah malu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh perempuan. Barusan dia membantuku menyapu dan mengepel. Sekarang, dia mengantarku ke pasar. Bahkan katanya, dia mau memasak untuk Ibu. Ha, betapa baiknya.” Batin Jingga.

Embun membeli banyak bahan makanan untuk buka puasa nanti. Dan semuanya dia yang tenteng. Jingga tidak diizinkan membawa satu kantong plastik pun. Ah, tumben. Biasanya dia paling suka melihat Jingga kerepotan.

“Jangan melamun, nanti kesandung.” Embun mengingatkan. Benar saja, alarmnya terkabul. Dan dia tertawa kecil. Huh poor me, kesal Jingga.

Tak berapa lama, Embun dan Jingga tiba di rumah. Ayah dan Ibu belum sampai. Masih diperjalanan pulang. Sehabis sahur tadi, mereka pergi ke Depok. Sekadar menengok kakek-nenek dan menjalani puasa pertama disana.

Tanpa bertele-tele, Embun langsung masuk dapur dan mulai bersikap kejam. Dia ambil sebuah pisau berukuran pas untuk mengupas, mengiris dan memotong beberapa bahan makanan. Tampaknya lelaki yang satu ini terlihat lebih maskulin jika sedang memasak. Sementara Jingga, masih kaku, bisu, seperti patung. Dia belum pernah berekspresi sebodoh itu sebelumnya. Kecuali dalam kekosongan (bengong).

“Kamu tidak sedang menonton acara memasak di televisikan?” Sindir Embun.
“Hu, aku kira kamu bisa mengerjakannya sendiri.”
“Kalau begitu, lebih baik kamu menata meja makan, lalu duduk manis disana. Aku tidak biasa merepotkan seseorang.”

Menyindir lagi. Jingga jadi cemberut. Baiklah, kali ini dia akan mengalah. Ah tidak, Jingga memang sudah terlatih sejak awal untuk menurut pada Embun. Bahkan ketika di rumahnya sendiri, Jingga merasa Embun punya wewenang.

“Ehm, boleh tanya?” Kata Jingga sedikit ragu.
“Aku mau masak tofu balado, sup bakso, ayam saus nanas sama acar. Nanti kamu bantu aku bikin es campur ya?” Ungkap Embun.
“Wah, iya-iya.” Jingga antusias.

Dua jam kemudian, semuanya hampir siap. Embun menuangkan lauk-pauk ke piring dan mangkuk. Lalu Jingga membawanya ke meja makan. Mereka rekan kerja yang serasi. Tidak ada percekcokan, tidak ada kerecokan. Detik-detik menuju waktu berbuka, mereka lewati dengan kebijaksanaan. Meskipun es campur yang mereka bikin, cukup kurang memuaskan bagi Jingga. Karena pakai susu putih, Jingga tidak suka. Tetapi, menghargai dan menghormati orang lain tidak sulit bukan? Maka, Jingga akan menyantap apa yang telah ia dan Embun buat.

Alhamdulilah. Ayah dan Ibu sampai juga di rumah. Mereka sempat bercerita tentang keadaan kakek dan nenek di Depok. Lalu, adzan maghrib berkumandang. Mereka berbuka puasa dengan penuh rasa syukur. Bagaimana tidak? Embun memasak untuk keluarga mereka. Dan Ibu tak henti-hentinya memuji Embun di depan Ayah. Uh betapa bangganya lelaki ini, batin Jingga.