Minggu, 05 Oktober 2014

AKU KUAT!



Aku berada dalam sebuah lingkaran
Di mana garis lingkaran itu adalah batasanku
Aku pernah kedatangan titik
Bahkan banyak
Satu per satu hadir
Atau bergiliran
Aku juga pernah benar-benar kosong
Seperti lingkaran utuh saja
Seperti semula

Dan belum pernah aku mendapatkan sebuah titik, titik terberat dalam hidup aku
Mungkin pernah tercoret, lalu hilang begitu saja
Pernah pula tertumpahan air, basah lalu kering, meski berbekas
Tetapi baru sekarang aku akan bilang
Aku tengah menghadapi sebuah titik yang benar-benar membuatku sakit kepala

Apa yang ku lakukan?
Aku pergi tiga hari berturut-turut
Sok menyibukkan diri
Pergi ke sana ke sini
Dari pagi hingga malam
Pergi pagi lagi, pulang malam lagi

Apa yang terjadi?
Aku kecapaian
Lelah
Kurang fit
Kurang pula waktu aku dalam mengerjakan rutinitas bahkan pekerjaan
Tidak seperti biasanya

Aku meminum beberapa obat warung
Hingga ke apotik
Lalu ke dokter tanpa sepengetahuan siapapun
Malah aku berniat untuk mendatangi seorang psikolog
Atau kalau perlu ke psikiater sekalian

Apa yang anda pikirkan?
Sakit jiwa?
Aku gila?
Aneh, nekat atau ada-ada saja?

Bukan

Ketika aku menangis dalam doa kepada Tuhan
Aku juga butuh seseorang untuk menampung tangisku
Menjawab dugaan-dugaan di diriku dengan pernyataan yang membuatku tenang
Yang membuatku lega, bebas dari titik terberat ini

Tuhan selalu menguatkanku
Aku yakin itu
Jangan ditanya lagi

Aku hanya ingin seseorang yang paham dengan kondisiku
Memberi prasangka yang tidak menyudutkanku
Namun menyadarkanku

Keadaan ini aku rasakan sendiri
Entah sampai kapan
Dan seberapa lama aku mampu menahannya
Aku hanya takut
Jika aku menjadi pemberontak pada saatnya
Pada saat titik di lingkaranku membesar
Aku takut kecewa terhebat untuk pertama kalinya

Dan aku lupa kalau aku punya tempat untuk mencurahkan
Embun yang masih mau dianggap sebagai tokoh fiksi buatanku
Embun yang tidak pernah akan aku repotkan
Embun yang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya telah menimpaku
Dia hanya boleh tahu kalau aku adalah Jingga
Jingga yang warnanya sedikit pudar sekarang
Yang mencoba untuk menghadapi ini dahulu
Menyembuhkan sendiri kesakitan-kesakitan dalam dirinya

Dan selalu mengatakan pada semua bahwa,
‘Aku kuat!’

6.1.20.8.5.18

Senin, 29 September 2014

SBY #StandByYou



Sepuluh tahun Pak SBY menjadi orang nomor satu di Indonesia
Bukan aku yang memilih
Aku belum cukup umur untuk melaksanakan yang katanya Pesta Rakyat itu
Pada saat itu

Dan entah kapan aku mulai mengagumi sosoknya
Atau sebut saja, ‘gue suka gaya lu’
Pak SBY itu kayak warna Ungu
Aku suka saja
Jangan tanya kenapa
Aku juga tidak tahu jawabannya

Sekarang banyak orang bilang #ShameOnYou (SOY)
Bukan begitu
#StandByYou (SBY) yang benar
Ada sesuatu pasti
Yang tidak beres

Orang yang baik itu, mendampingi
Kasih tahu lembut-lembut
Bukan asal cerocos sok kritikus
Kayak lagi lapar terus makan dua mangkok (Ini misalnya Bakso ya)

Pak SBY itu butuh kita untuk berdiri di sampingnya
Enggak perlu kita yang bisanya cuma berkoar
Teriak-teriak ‘demokrasi, demokrasi’
Pengin tampang jadi “demonstran”?
Mending terjun ke politik sekalian
Jangan tanggung deh
Daripada terjun dari lantai dua
Mungkin mati atau merepotkan orang-orang di rumah sakit

Pak SBY itu kayak di Three Days
Atau di Good Morning President
Atau di City Hunter
Di Olympus Has Fallen
The Butler
White House Down
Yang pasti bukan kayak di Ada Apa Dengan Cinta

Hah,
Mungkin aku yang terlalu drama
Karena sering menonton film kepresidenan seperti itu

Aku jadi susah membedakan
Mana yang sebenarnya
Mana yang bersandiwara
Mana yang cari muka
Mana yang ikhlas
Mana yang sejati
Mana yang sekelebat

Intinya aku ingin mengatakan
Bahwa aku ingin #StandByYou Pak SBY

Ini saja sudah cukup untuk mengungkapkan perasaanku sekarang
Sejak membaca, mendengar, melihat berita tentang #ShameOnYou Pak SBY
Ingat, yang benar #StandByYou Pak SBY

Selasa, 23 September 2014

CINTA APA?



Aku percaya cinta sesama jenis itu ada
Aku juga pernah melihatnya di film, baca ceritanya di novel
Dan pernah juga lihat secara langsung, secara tidak sengaja

Mereka bergandengan tangan tanpa peduli orang-orang di sekitar memandang mereka sekan bilang j*jik
Mereka berpelukan tanpa mengerti bahwa hal itu membuat yang melihatnya risi
Mereka juga asyik bersenda gurau, membuat siapapun iri

Dan tidak ada yang tahu cinta apa yang mereka punya kecuali mereka sendiri

Sulit memang menerima kenyataan itu
Jangankan orang yang terdekat yang menjalani hubungan macam itu
Orang lain pun, jika kita melihatnya, akan sangat aneh dan kita berpikir-pikir

Hidup ini sudah semakin jauh
Semakin berbeda saja
Manusia-manusia menjadi sok pintar
Sok tahu, sok berkuasa
Sok demokrasi
Sok demonstran
Padahal orang-orang seperti itu hanya sedang menuntut apa yang dia inginkan

Itukah cara menunjukkan rasa yang sebenarnya?

Berusaha mempertontonkan apapun itu yang dikira benar, tanpa riset, tanpa tahu ilmu dasar atau hukum pastinya

Palsu
Dusta

Jangan marah!

Senin, 22 September 2014

BIARKAN SAJA

Aku tidak dapat merasakan apa-apa
Bahkan sekadar angin yang meniup saja
Mereka hilir mudik lalu-lalang
Biarkan saja
Aku hanya suka mendengar Bapak itu berteriak Blok M, Blok M
Dan ku biarkan melupakan yang lain

Ada sesuatu yang begitu indah bila kita memperhatikannya dari atas hingga bawah, dari luar hingga hatinya
Apa?
Rasa syukur

Percakapan pertama dia bertanya, mau ke mana?
Aku menggelengkan kepala dan berkata, tidak tahu
Lalu dia bilang, anak muda harus punya tujuan, walau itu hanya melangkah sebelah kaki

Aku merenung
Biarkan saja
Aku memang suka melamun juga
Sepanjang jalan menuju pangkalan bis dua angka itu
Aku masih sangat mengagumi halte wolter
Mungkin karena di sana tempat seseorang yang selalu sabar menungguku

Entah
Biarkan saja
Cuma aku yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi