Sabtu, 16 Mei 2015

100 Surat Kecil untuk Pak SBY


#SDSMUSLIMIN #SUPERMENTOR6



Bicara cita-cita, bicara keinginan, bicara aspirasi dan harapan memang tidak pernah membosankan. Hal-hal seputar itu selalu menyenangkan dan enak untuk dibahas. Bagi saya, sangat beruntung ketika saya dapat bertanya dan mengetahui langsung jawabannya dari anak-anak  SDS Muslimin, Kramat Raya, Jakarta Pusat.



Saya memasuki kelas IV, V dan VI. Setiap kelas, setiap usia, setiap anak memiliki karakter dan gaya menyambut saya yang berbeda-beda. Tetapi satu hal, mereka mempunyai tujuan yang sama. Menjadi berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan terutama kedua orang tua.


Setelah bercerita dan berbincang dengan mereka, saya menjelaskan tentang surat yang akan mereka tulis untuk Pak SBY.

“Kalian boleh tulis cita-cita kalian apa, keinginan kalian apa, dan yang ingin kalian katakan ke Pak SBY apa.” Kata saya sambil menulis di papan tulis.

“Cita-cita saya mau jadi Guru seperti Bu Nia, kak.” Teriak seorang murid perempuan di barisan paling belakang.


Disambar celetukan-celetukan murid lain yang juga Luar Biasa. “Saya mau jadi Dokter seperti Dokter Fahmi.” “Aku mau jadi Artis seperti Aliando.” Dan sebagainya.

Saya mengatakan ‘Aamiin’ di dalam hati ketika mereka menyebutkan cita-cita mereka dengan lantang.


Ada banyak hal yang harus kita tahu, kita mengerti, kita pahami dan kita maklumi dari anak-anak. Mereka tidak bisa dipaksa, mereka tidak mudah diarahkan. 100 surat yang mereka tulis adalah kejujuran, bukan kepolosan.

Bu Fitri, salah satu Guru di SDS Muslimin berkata pada saya. “Harap maklum dengan sikap mereka. Karena mereka berasal dari lingkungan yang berbeda-beda.”


Saya rasa saya tidak perlu menuliskan lebih detailnya tentang ucapan Bu Fitri. Anda bisa datang dan melihat mereka langsung di sana. Mereka perlu orang-orang yang peduli dengan pendidikan, kesejahteraan sosial dan keselarasan HAM.


Bu Khania, selaku Kepala Sekolah, juga mengungkapkan banyak hal pada saya. Bahwa yang paling dibutuhkan oleh anak-anak SDS Muslimin adalah kasih sayang yang tulus. Karena mereka tumbuh di lingkungan yang keras. Not well educated yang tata krama dan pergaulannya sangat memprihatinkan. Maka dari itu para pendidik dituntut untuk telaten dalam membina mereka.

Ada yang sangat saya suka dari sosok Bu Khania. Beliau benar-benar memperhatikan rekan-rekannya. Ia sadar tentang hal tersulit bagi seorang Kepala Sekolah, yaitu mengenai SDM, tenaga pendidik dan kependidikan. Para guru harus mengubah mindset lamanya. Bu Khania tahu itu tidak mudah, tetapi pasti bisa.

Harapan Bu Khania terhadap guru-guru di SDS Muslimin tidak banyak, ia menyampaikan bahwa seorang guru tidak sekadar mengajar mata pelajaran saja, namun harus benar-benar mendidik karakter murid, memberi contoh kebiasaan-kebiasaan baik, mengajar penuh dengan kasih sayang yang tulus, menambah wawasan dan belajar lagi mengembangkan teknik mengajar yang tepat, serta memberikan pengetahuan-pengetahuan di luar pelajaran yang diajarkan.





Saya senang mengenal SDS Muslimin. Mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Saya berharap surat-surat mereka akan dibaca dan dibalas oleh Pak SBY. 


Tidak perlu menunggu punya uang untuk berbagi, tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi, dan tidak perlu menunggu sukses untuk berbagi.


Kita bisa berbagi semangat, motivasi dan inspirasi. Kita bisa mendukung mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Karena yang mereka butuhkan adalah keberadaan kita.


Notes:
Menjadi volunteer saja saya rasa sangat biasa dan mudah. Maka dari itu, kali ini saya punya misi. 100 Surat Kecil untuk Pak SBY. Saya lihat mereka begitu lebih antusias ketika ditanya cita-cita, keinginan, aspirasi dan harapan. Mereka memberi saya banyak ilmu dan pembelajaran.

Terima kasih Pak Dino Patti Djalal atas SUPERMENTOR dan FPCI juga inspirasi-inspirasinya.

Rabu, 25 Maret 2015

Sumpah! Ini novel bikin gemasss


Novel                 : Rindu Terpisah di Raja Ampat
Penulis                : Kirana Kejora
Penerbit              : Zettu
Halaman             : 276 Halaman


“Jangan menjura cinta yang hanya akan membuat rengsa, cinta yang menjunta dari hilir kenisbian akan bermuara pada ketiadaan.”

Begitu tagline dari novel bersampul biru laut dengan pemandangan Raja Ampat yang super EPIC!

Novel-novel karya Mbak Kirana atau yang biasa disapa Key memang selalu spesial dan beda. Novel ke-14 yang baru akan edar minggu depan ke seluruh toko buku di JABODETABEK dan awal April ke seluruh toko buku di Indonesia ini adalah novel yang mahal.

Ya, kamu benar. Mahal karena ber-setting di Raja Ampat. Tapi bukan cuma itu. Novel ini mahal karena menyampaikan hal-hal seputar Perikanan dan Kelautan. Kisah cinta antara Rindu dan Karang juga menjadi satu-satunya alasan yang bikin aku gemas. Apalagi Ganesha yang enggak muncul-muncul. Itu nyebelin banget!

Baca novel ini membuatku merasakan bagaimana rasanya OPSPEK (Orientasi Program Studi Pengenalan Kampus) ala Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Wow! Luar Biasa pokoknya.

Novel romance education ini juga merupakan novel pertama yang kubaca yang mengangkat tentang Raja Ampat, beserta hal-hal di sekitarnya. Kapal, Nelayan, tempat-tempat bagus di sana, penyelaman, isi laut, cerita cinta yang menyentuh, dan lain-lain.

Ini termasuk novel yang lengkap. Kayak buku dalam buku. Ilmunya ada, banyak malah. Lucunya ada, sedihnya ada, bikin takjub, geregetan.

Kamu harus punya!

Harus baca!

Dan harus siap jatuh cinta sama Karang Biru Jalesveva.

Kalau kamu cowok, kamu harus siap jatuh cinta sama Rindu Eidelweis.

Kamu juga pasti penasaran kan sama Ganesha Airlangga?

Dapatkan segera di toko buku terdekat!

Cibubur Village Apartment, 23 Maret 2015

-kejora, DELISA NOVARINA

“Tidaklah mudah belajar ketegaran dari batu karang yang angkuh, namun setidaknya bagaimana ketenangannya terhempas kerasnya ombak, memberi pelajaran tentang cara seperti apa seharusnya sebuah kapal bisa dengan indah berlabuh, tanpa sedikitpun riak menyentuh.” - Novel RINDU TERPISAH DI RAJA AMPAT -


Selasa, 24 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun, Mak


Hal tersulit di dunia ini adalah melupakan senyumanmu
Melupakan tangisanmu
Melupakan setiap suka duka yang selalu kita lewati bersama

Kau ingat?
Kau ingin mengatakan satu hal pada suamiku jika aku menikah nanti
“Sedikit saja kau kasar terhadap anakku, aku akan membunuhmu.”
Saat itu sebenarnya aku sangat terharu
Tetapi aku tahu, kau terlahir menjadi pendekar
Pahlawan yang gagah berani

Oh ya,
Apa kau tahu apa alasanku selama ini selalu ogah-ogahan belajar memasak?
Karena aku ingin selalu memakan makanan buatanmu setiap hari
Namun sekarang, rasanya aku ingin menjadi koki untukmu
Aku bosan, kau selalu bilang “Ibu harus pandai memasak”
Sepertinya kini aku tahu tiga hal yang menjadi impian terbesarmu

Kau ingin menjadi seorang Ibu, itu sudah tercapai
Kau ingin menjadi seorang Mertua
Dan kau ingin menjadi seorang Nenek
Aku akan mewujudkan kedua impianmu yang belum tercapai kelak
Aku harap kau senantiasa bersabar

Hhm, tentang seseorang
Aku tahu betul
Kau punya satu nama yang selalu kau sebut beberapa kali
Aku sampai muak mendengarnya
Sejujurnya aku tidak tega mengatakan ini
Tetapi sungguh, aku ingin kau melupakannya
Dia mungkin bukan jodohku, Mak

Hey, jangan cemberut

Tentu kau tidak tahu
Bagaimana perasaanku terhadapnya
Namun kau pasti tahu
Yang terbaik bagiku

Ah, lupakan tentangnya
Orang yang tidak meninggalkan shalat 5 waktu bukan hanya dia
Jodoh yang baik untuk pribadi yang baik juga kan, Mak?
Aku hanya perlu menjadi semakin lebih baik lagi
Aku berjanji tidak akan salah memilih

Begitu, tersenyumlah

Kalau kau masam mukanya, rasanya tidak enak hati
Kalau kau mengabaikanku, rasanya dadaku begitu sesak
Apalagi kalau kau marah, rasanya jantungku mau copot, hehe

Oh, soal impian-impian kita
Fondasi-fondasi yang sudah kita bangun
Jangan khawatir
Kita selalu percaya kan?
Bahwa suatu saat semua itu akan menjadi sebuah istana
Maka, bekerjalah dengan keras
Pada waktunya, kita akan merasakan hasilnya, Yeay!

Euh, Mak?
Maaf ya, bila mungkin aku terlalu gengsi untuk bilang sayang
Untuk bilang “I Love You”
Atau sekadar mencium pipimu
Kau pasti menyadarinya
Aku hanya berani memeluk dan mencium tanganmu
Di depan umum maupun di dalam rumah
Namun sebenarnya, aku mengatakan cinta di dalam hatiku
Kau mengerti bahasa kalbu
Tentu kau tidak akan kesulitan mengartikannya
Terima kasih telah memahami itu

Oh ya, ada satu lagi
Waktu aku menangis di depanmu beberapa minggu lalu
Mungkin baru sekarang kau tahu mengapa hal itu terjadi
Ah, aku malu mengatakannya
Aku menangis karena kesal
Kesal pada orang-orang yang tidak pernah bisa menghargaimu
Orang-orang munafik yang selalu datang untuk meminta bantuanmu

Mengapa ada perempuan sebaik dirimu?
Apa itu salah satu jawaban kenapa kau disebut Ibu?
Kau punya hati sejernih embun
Bahkan kau punya kekuatan yang lebih daripada seorang pejuang
Kau hebat sekali
Aku bangga menjadi anakmu, Mak

Sudah ya,
Air mata kali ini cukup sebanyak ini saja
Simpan sisanya untuk kebahagiaan yang menanti kita menyambutnya

Selamat Ulang Tahun, Mak
Kau adalah Ibuku
Kuharap kau tidak menyesal
Akan kubiarkan kau menangis bangga padaku suatu hari nanti
Dan kau akan membalas ucapanku, “Kau adalah Anakku.”

I’m everything I am
Because you loved me
(Soundtrack of Celine Dion)

Beji Timur, Depok
untuk 03 Maret 2015
LS

Jumat, 23 Januari 2015

KATAKAN TIDAK



Cerpen edisi LIVE TO LOVE @Afgansyah_Reza




Dodit, lelaki 25 tahun dengan ketampanan yang paspasan dan bersuara medok khas Jawa itu berjalan penuh semangat. Ia tidak berjalan sendirian. Seseorang berada di sampingnya. Mereka saling bergandengan tangan. Menurutnya, berpacaran dengan siswi SMA itu keren. Perbedaan usia hanya 8 atau 9 tahun. Dan ia bisa membuktikan kepada teman-temannya, kalau lelaki dengan tampang paspasan tidak melulu mendapat perempuan yang paspasan juga.

Sementara Nina, siswi SMA kelas 3 yang memiliki paras secantik Yuki Kato-menurutnya sendiri-bukan sebuah keberuntungan berpacaran dengan lelaki dewasa yang jauh lebih tua darinya. Dodit memang cukup mapan. Nina tidak perlu takut kelaparan kalau berjalan dengannya. Tetapi, satu kekurangan Dodit yang bagi Nina sangat fatal. Yaitu penampilan. Itu mengapa Nina tidak punya keberanian yang cukup untuk memperkenalkannya kepada teman-teman.

Hari ini mereka ke Dufan. Pertama kalinya bagi Dodit, namun ke sekian kali bagi Nina. Dodit begitu norak, membuat Nina malu dan bergidik.

“Mana teman kamu? Katanya ada yang ke sini juga,” tanya Nina.

“Iya, di mana ya?”

Dodit melirik ke sana kemari, mencari seorang teman kerjanya yang juga berlibur ke sini dan sempat meminta untuk bertemu. Tentu Dodit dengan senang hati ingin menemuinya. Mau menunjukkan betapa cantiknya kekasihnya.

“Nah itu,” tunjuk Dodit, “Deva.”

Ketika melihat orang yang dicari, Dodit langsung memanggilnya.

Deva, teman kerja Dodit, sangat berbeda dengannya. Nina sampai melongo. Kok bisa Dodit punya teman seganteng itu?

“Loe sendiri?”

“Iya, dit.”

“Eh, kenalin, ini pacar gue, dev. Namanya Nina.” Dodit memperkenalkan Nina kepada Deva.

“Nina,” sambil memasang senyum paling manis yang pernah ia punya.

“Deva,” sedikit syok memang, namun Deva berusaha untuk biasa saja.

Setelah berjabat tangan, Nina merasa ada sesuatu yang menyetrum perasaannya. Dan berpikir kalau Deva juga merasakan hal yang sama.

Lalu, mereka bertiga mengunjungi beberapa wahana permainan. Lucunya, ketika selesai menaiki Tornado, Dodit merasa kepalanya begitu berat, penglihatannya tidak jelas, dunia terasa berputar, dan perutnya begah. Akhirnya, ia pun muntah. Sedangkan, Nina dan Deva sudah pergi ke wahana permainan yang lain, meninggalkan Dodit. Atau lebih tepatnya, lupa kalau ada Dodit.

“Nin, Nina,”

Mendengar teriakan Dodit memanggilnya, Nina baru ingat kalau Dodit ketinggalan. Membuat Deva menahan tawanya dan bergeleng.

Sesudah asyik bermain, mereka pun makan siang. Sesekali Dodit memergoki Nina tengah memperhatikan Deva, juga melihat Nina begitu sibuk dengan ponselnya.

“Ke toilet dulu ya, sebentar,” izin Deva.

Ketika ia pergi, Dodit baru bisa berbicara.

“Nin, kalau di depan teman aku, jangan smsan terus dong, kan enggak enak.”

“Siapa yang smsan? Aku chatting sama teman sekolah, besok ada ujian praktik, aku harus sudah hafal.”

“Oh, ya tapi jangan terlalu diam ya, nanti kesannya jutek.”

“Iyaaa,”

Tanpa sepengetahuan Dodit, ternyata Nina dan Deva sudah bertukar nomor handphone. Bahkan sekarang mereka saling chatting di Line. Mengirim stiker untuk mengolok Dodit. Membuat lelaki itu terlihat kasihan dan benar-benar tidak peka.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Nina meminta untuk segera pulang. Dodit mengantarnya. Sementara Deva pulang ke arah yang berbeda. Dengan sebuah motor sport berwarna hitam, pengendara yang memakai helm tampak begitu maskulin. Nina boleh berbangga. Ketika sampai di depan rumahnya, Nina turun, dan Dodit mengucapkan beberapa hal.

“Nin, kamu sayang sama aku kan?”

“Iyalah,”

“Jangan pernah bohongin aku ya. Kalau ada apa-apa bilang aja.”

“Siap, bos.”

Dodit merasa lega sudah mengatakannya. Ia sangat berharap Nina menjadi kekasih yang jujur dan tulus menyayanginya. Tanpa berlama-lama, Dodit pun pamit. Ketika motornya sudah tak terpandang lagi, sebuah motor sport berwarna biru muncul dan berhenti tepat di depan Nina. Dan ya, itu Deva.

Tanpa basa-basi, Nina langsung naik ke boncengan motor. Membuat Deva lantas melaju dengan kecepatan sedang.

“Katakan tidak pada selingkuh.”